Zoonosis

Leptospirosis [2]

Posted on Januari 12, 2008. Filed under: Kesmavet, Kita perlu tahu, Zoonosis |

tikus bejat

sumber gambar:

http://www.emelaka.gov.my

Leptospirosis, merupakan penyakit pada hewan dan manusia akibat infeksi bakteri spirochaeta dari genus leptospira. Dikenal 18 srogrup yang patogen dari leptospira berdasarkan uji aglutinasi mikroskopis (UAM) dan hampir sebagian besar serogroupberada di Indonesia. Leptospirosis dapat berbentuk infeksi sub klinis atau demam ringan yang dapat menyebabkan keguguran pada hewan bunting, sampai hepatitis dan neprhitis yang berat yang menyebabkan kematian karena kerusakan hati dan ginjal.

Penyakit ini erat kaitannya dengan kesehatan dan kebersihan lingkungandan berdampak pula pada peternakan, karena penyakit ini berakibat fatal pada ternak (dan juga manusia) kalau penanganannya terlambat.

Etiologi

leptospira adalah bakteri berbentuk filamen dengan panjang 6-20 mikron, diameter 0,1-0,2 mikron. Leptospira dapat bertahan dalam air tawar selama kurang lebih sebulan dan jenis ini tidak tahan terhadap kondisi lingkungan yang asam.

Penyebaran

Penyebarannya terganung pada keadaan luar yang tertentu yakni penyebaran utama yang terjadi melalui air dan lumpur. Hewan penyebar sepertitikus, kelelawar, serigala, racoon, dan kucing liar bertindak sebagai sumber penularan leptospirosis. Hewan yang peka terhadap leptospirosisadalah lembu, babi, anjing, domba, kambing, kuda dan hewan rodensia lainnya.

Cara penularan

Secara alamiah hewan carier leptospirosis adalah rodensia. Sedangkan anjing dan babi berfungsi sebagai pembawa yang potensial. Infeksi terjadi lewat kulit yang luka atau lewat selaput lendir mata, hidung, dan saluran pernafasan. Percikan akibat pancaran air kemih di atas alas kandang yang keras dapat menyebabkan infeksi melalui pernafasan. Infeksi lewat kulit dengan mudah bila hewan atau manusia mandi dalam air yang tercemar leptospira. Hal ini kemungkinan besar terjadi di daerah-daerah yang terjadi banjir yang airnya bercampur dengan kotoran dan urin tikus yang terkena leptospirosis.

Pencegahan leptospirosis tergantung dari pengetahuan tentang kebiasaan dan ciri-ciri hewan pembawa, cara-cara penularan dan populasi hewan yang rentan. Salah satu cara pengendalian yang ideal adalah menyingkirkan hewan pembawa leptospira terutama rodensia liar. Dan juga perlu diadakan pemusnahan terhadap hewan ternak yang positif terkena leptospirosis. Leptospirosis dapat dicegah secara efektif dengan vaksinasi (untuk hewan sedangkan untuk manusia sampai saat ini belum ditemukan). Tindakan vaksinasi dibarengi dengan tindakan sanitasi dan pengobatannya dengan antibiotik berspektrum luas (penisilin, streptomisin dan oxsytetrasiklin).

Hewan penderita leptospirosis idakdianjurkan untuk dipotong karena leptospirosis merupakan zoonosis yang kemungkinan besar bisa menular kepada pekerja rumah Potong Hewan (RPH) pada saat pemotongan dan kemungkinan tertularnya pada hewan lain. Ada beberapa pekerjaan yang rentan terhadap penyakit ini yaitu para pekerja selokan yang secara langsung berinteraksi dengan sarang atau kotoran tikus dan juga para pekerja tambang, dokter hewan praktek dan mantri hewan yang menangani kasus hewan yang terkena leptospirosis serta bisa juga para peternak.

Baca Tulisan Lengkap | Make a Comment ( 9 so far )

Banjir, Leptospirosis dan Tikus

Posted on Januari 3, 2008. Filed under: Kesmavet, Kita perlu tahu, Sekitar kita, Zoonosis |

Guyuran hujan di penghujung tahun 2007 yang tiada henti, membuat beberapa daerah mengalami banjir dan tanah longsor. Bencana tidak hanya mengintai pada saat kejadian saja, tapi dampak negatif yang segera menyusul setelah banjir patut diperhitungkan juga. Misalnya, mulai timbul penyakit diare, gatal-gatal dan kekurangan air bersih. Dan ada bahaya lain yang sedang mengintai yaitu, Leptospirosis.

Banjir, leptospirosis, dan tikus mempunyai kaitan yang sangat erat satu sama lain. Tikus yang kita kenal adalah tikus yang tinggal di selokan-selokan dan di bawah tanah. Banjir yang terjadi pada saat musim seperti sekarang ini tidak hanya menghancurkan rumah-rumah penduduk saja, tetapi juga turut menghancurkan sarang-sarang tikus di bawah tanah. Hal ini tentu saja membuat mereka berlarian ke permukaan dan menyebar ke pemukiman penduduk. Melalui urine-nya, tikus-tikus tersebut mencemari banyak tempat yang dilaluinya seperti air banjir, peralatan makan, makanan ataupun kontak langsung dengan anggota tubuh manusia.

Daerah-daerah kumuh yang biasanya kurang memperhatikan sanitasi lingkungan dan termasuk individu yang menghuninya memiliki kecenderungan yang buruk dalam konteks kebersihan. di daerah inilah bakteri Leptospira yang mampu bertahan kurang lebih enam bulan dalam lumpur menjadi semakin merajalela.

Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri dari genus Leptospira, dengan tikus sebagai reservior utama dalam penyebarannya. Domba, kambing, kuda sapi dan anjing mempunyai potensi yang kuat untuk menyebarkan penyakit leptospirosis ke manusia, tetapi tikuslah yang paling hebat dalam penularannya.

Leptospirosis adalah penyakit yang menyerang orang-orang tertentu dengan pekerjaan tertentu. Orang-orang yang cukup potensial terserang leptospirosis antara lain; petani, pekerja rumah potong hewan, dokter hewan sampai para perawat kesehatan hewan.

Seorang tukang potong hewan, misalnya seorang tukang potong sapi yang kesehariannya bekerja dan berinteraksi secara langsung dengan sapi yang mungkin saja terserang leptospirosis sangat besar kemungkinanya untuk tertular. Apabila urine dari sapi tersebut mengenai selaput lendir atau bagian kulit yang mengalami luka yang terbuka dan tidak segera dibersihkan maka orang tersebut akan tertular. Bisa juga menyerang seorang petani yang bekerja di sawah dengan populasi tikus yang cukup tinggi, dokter hewan atau mantri hewanpun sangat mungkin tertular karena profesinya saat melakukan bedah bangkai atau menangani pasien di klinik dan atau lapangan.

Pada dasarnya ada beberapa hal yang mempengaruhi keparahan serangan leptospirosis, antara lain kondisi tubuh, kondisi lingkungan, dan tipe serotipe yang menyerang.

Kondisi tubuh yang lemah misalnya saat seseorang mengalami stress fisik, stress nutrisi (pokonya stress lah..) dapat menjadi alasan yang mendukung serangan leptospira karena kondisi tubuh yang lemah. Hal berikutnya adalah mengenai baik buruknya kondisi lingkungan tempat tinggal seseorang. Contohnya saja banjir besar yang terjadi di beberapa tempat mengundang tikus-tikus untuk muncul ke permukaan dan menyebar ke pemukiman penduduk. Pada saat porak poranda ini tikus-tikus mencemari banyak tempat termasuk bahan makanan dengan urine mereka yang berbahaya. Lingkungan kotor yang tercemar oleh urine mereka menjadi reservoir kuman leptospira yang mendukung penyebaran penyakit leptospirosis.

Perlu diketahui juga bahwa vaksin leptospirosis untuk manusia belum diproduksi karena terlalu banyak serotipe yang menyerang manusia. Lain halnya dengan yang menyerang anjing, serotipe yang menyerang anjing sangat terbatas sehingga vaksin untuknya sudah dapat diproduksi.

Jadi, jangan pernah anggap remeh tikus got…Klo kita jorok mereka bisa membahayakan kesehatan kita. Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan dan semoga bencana yang sedang melanda Indonesia dapat segera berlalu.

Baca Tulisan Lengkap | Make a Comment ( 10 so far )

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.