Sebuah Renungan tentang Kelautan

Posted on Desember 19, 2007. Filed under: Aquatic, Curhat, Sekitar kita |

Sebelumnya, saya ingin cerita dulu kenapa saya nulis postingan ini. Waktu itu (15/12-07), saya menjemput ibu yang sedang rapat.Sambil menunggu, saya membaca buku yang ada di perpustakaannya (Ibu saya adalah seorang guru SD). Saya tertarik dengan buku seri kelautan yang ada di salah satu rak disana (daripada nunggu sambil bengong khan lebih baik isi waktu dengan baca. Betul ga…?)

Pengantar dalam buku tersebut ditulis oleh Prof. Dr Otto Soemarwoto (saya tidak tahu Beliau ini siapa). Yang jelas isi tulisan Beliau kurang lebih seperti berikut.

Indonesia adalah negara kepulauan. Jumlah pulaunya sekitar 17.000 pulau (klo ga percaya silahkan hitung sendiri), yang terbentang dari Sabang sampai Merauke (berjajar pulau-pulau….. eh, kok malah jadi nyanyi :-)). Luas daratan hanya sepertiga dari 6 juta kilometer persegi dari luas lautan. Dengan panjang pantai sekitar 81.000 km. Dengan kondisi seperti ini tampak dengan jelas bahwa negarakita adalah sebuah negara bahari.

Tapi sayangnya negara kita bukanlah sebuah negara bahari, melainkan bangsa yang berorientasi pada daratan. Misalnya, dulu ibukota Riau adalah Tanjung Pinang yang terletak di sebuah pulau di tengah laut. Tetapi kemudian dibangun ibukota baru, yaitu Pekanbaru yang terletak di tengah daratan (saya baru tahu hal ini).

Pembangunan kita juga berorientasi pada daratan. Misalnya, kita banyak berbicara tentang jalan raya lintas sumatra dan jalan raya lintas Jawa. Juga tentang pembangunan jembatan antar pulau misalnya, jembatan Jawa-Bali. Tetapi pembangunan transportasi laut sangat samar terdengar. Kapal-kapal banyak yang tua. Mercu suar dan rambu-rambu laut yang sangat penting untuk transportasi laut tidak banyak mengalami modernisasi. Perjalanan dengan kapal laut tidaklah nyaman dan juga tidak aman, sering terjadi kecelakaan.

Laut sering dianggap pemisah pulau. Padahal laut sebenarnya adalah penghubung pulau yang satu dengan pulau yang lain. Laut merupakan jalan raya yang disediakan oleh alam. Kita tidak perlu membangun ataupun merawatnya. Kita hanya perlu membangun sarana transportasinya (kapal) dan terminalnya (pelabuhan). Jadi akan sangat jauh lebih murah untuk memodernisasi kapal-kapal feri yang menghubungkan Sumatra-Jawa, Jawa-Bali, Bali-Lombok dibandingkan membangun jembatan.

TNI kita juga lebih didominasi oleh Angkatan Darat. Letak geografis kita antara Lautan Hindia dan Lautan Pasifik memerlukan angkatan laut yang kuat, karena laut kita merupakan penghubung kedua lautan tersebut. Tetapi Angkatan Laut kita lemah. Tidak mempunyai kapal perang modern. Jumlah kapal patrolipun tidak memadai untuk patroli laut kita yang sangat luas. Angkatan Laut kita diperlukan untuk menjaga bila terjadi perompakan laut, penyelundupan senjata dan pencurian ikan.

Laut kita banyak mengandung kekayaan, antara lain ikan, rumput laut, dan mutiara. Disepanjang pantai terdapat sekitar 350.000 ha tambak. Terumbu karang kita luasnyasekitar 7.500 meter persegi yang merupakan sumber daya yang sangat penting untuk perikanan dan pariwisata. Dasar laut kita juga kaya akan minyak bumi dan gas alam.

Tidak banyak pula orang Indonesia yang terjun dalam ilmu kelautan. Padahal kehidupan kita sangat dipengaruhi oleh laut., antara lain iklim kita. Misalnya, musim hujan dan musim kemarau kita. Bahkan El Nino juga dipengaruhi oleh lautan.

Mari kita bersama-sama menjaga laut kita, khusunya dari pengrusakan dan polusi. Jadi, udah ada yang tertari untuk lebih mendalami kelautan?

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

5 Tanggapan to “Sebuah Renungan tentang Kelautan”

RSS Feed for Balivetman’s Weblog – Sebuah Goresan Veteriner Comments RSS Feed

Waduh, sebenarnya dulu kita pernah menghargai laut, buktinya adalah dikeluarkannya Deklarasi Djuanda. Sayang intrik internal ditubuh Militer Indonesia yang membuat semua fokus pembangunan teralih ke darat.
Dominasi perang laut yang terkenal diawal abad 19an sudah beralih pada fokus perang udara.
Waktu saya bikin skripsi tentang batas wilayah Indonesia, banyak kesulitan juga saya temui, khususnya ketika membahas masalah perbatasan darat dan laut. Proposal penelitian saya ke beberapa instansi juga ditolak. Hehehe

walah walah…ternyata saudara meonx senang main-main ke laut juga ya….?terima kasih juga udah luangin waktu untuk main kesini…

Salam kenal…
Bagus sekali pak tulisannya, sekedar tambahan bhw nenek moyang kita juga seorang pelaut.. Banyak potensi yang bisa digali dari sumber daya kelautan kita…

pembangunan laut…… heheheheheheheehh kebayang kalo ada kota ngapung di laut……
fokus pemerintahan membangun di darat bukan karena apa-apa, mungkin karena pembangunan di darat lebih muda, murah dan cepat ketimbang di laut… angkatan laut yang tidak kuat, itu akibat dari era Bpk pembangunan kita H.M Soeharto, dulu era Ir. Soekarno navy kita tangguh bro….

Yups…sy salah satu orng yg pngen bngt mendalami kelautan!!!!
sepakat bro…
t’nyata msh banyak orng indonsia yg kurng memahami apa itu laut!! smpe2 laut dijadikan t4 pembuangan sampah…
kan kasian tuuu,,biota yg ada di dlmnya


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: