Banjir, Leptospirosis dan Tikus

Posted on Januari 3, 2008. Filed under: Kesmavet, Kita perlu tahu, Sekitar kita, Zoonosis |

Guyuran hujan di penghujung tahun 2007 yang tiada henti, membuat beberapa daerah mengalami banjir dan tanah longsor. Bencana tidak hanya mengintai pada saat kejadian saja, tapi dampak negatif yang segera menyusul setelah banjir patut diperhitungkan juga. Misalnya, mulai timbul penyakit diare, gatal-gatal dan kekurangan air bersih. Dan ada bahaya lain yang sedang mengintai yaitu, Leptospirosis.

Banjir, leptospirosis, dan tikus mempunyai kaitan yang sangat erat satu sama lain. Tikus yang kita kenal adalah tikus yang tinggal di selokan-selokan dan di bawah tanah. Banjir yang terjadi pada saat musim seperti sekarang ini tidak hanya menghancurkan rumah-rumah penduduk saja, tetapi juga turut menghancurkan sarang-sarang tikus di bawah tanah. Hal ini tentu saja membuat mereka berlarian ke permukaan dan menyebar ke pemukiman penduduk. Melalui urine-nya, tikus-tikus tersebut mencemari banyak tempat yang dilaluinya seperti air banjir, peralatan makan, makanan ataupun kontak langsung dengan anggota tubuh manusia.

Daerah-daerah kumuh yang biasanya kurang memperhatikan sanitasi lingkungan dan termasuk individu yang menghuninya memiliki kecenderungan yang buruk dalam konteks kebersihan. di daerah inilah bakteri Leptospira yang mampu bertahan kurang lebih enam bulan dalam lumpur menjadi semakin merajalela.

Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri dari genus Leptospira, dengan tikus sebagai reservior utama dalam penyebarannya. Domba, kambing, kuda sapi dan anjing mempunyai potensi yang kuat untuk menyebarkan penyakit leptospirosis ke manusia, tetapi tikuslah yang paling hebat dalam penularannya.

Leptospirosis adalah penyakit yang menyerang orang-orang tertentu dengan pekerjaan tertentu. Orang-orang yang cukup potensial terserang leptospirosis antara lain; petani, pekerja rumah potong hewan, dokter hewan sampai para perawat kesehatan hewan.

Seorang tukang potong hewan, misalnya seorang tukang potong sapi yang kesehariannya bekerja dan berinteraksi secara langsung dengan sapi yang mungkin saja terserang leptospirosis sangat besar kemungkinanya untuk tertular. Apabila urine dari sapi tersebut mengenai selaput lendir atau bagian kulit yang mengalami luka yang terbuka dan tidak segera dibersihkan maka orang tersebut akan tertular. Bisa juga menyerang seorang petani yang bekerja di sawah dengan populasi tikus yang cukup tinggi, dokter hewan atau mantri hewanpun sangat mungkin tertular karena profesinya saat melakukan bedah bangkai atau menangani pasien di klinik dan atau lapangan.

Pada dasarnya ada beberapa hal yang mempengaruhi keparahan serangan leptospirosis, antara lain kondisi tubuh, kondisi lingkungan, dan tipe serotipe yang menyerang.

Kondisi tubuh yang lemah misalnya saat seseorang mengalami stress fisik, stress nutrisi (pokonya stress lah..) dapat menjadi alasan yang mendukung serangan leptospira karena kondisi tubuh yang lemah. Hal berikutnya adalah mengenai baik buruknya kondisi lingkungan tempat tinggal seseorang. Contohnya saja banjir besar yang terjadi di beberapa tempat mengundang tikus-tikus untuk muncul ke permukaan dan menyebar ke pemukiman penduduk. Pada saat porak poranda ini tikus-tikus mencemari banyak tempat termasuk bahan makanan dengan urine mereka yang berbahaya. Lingkungan kotor yang tercemar oleh urine mereka menjadi reservoir kuman leptospira yang mendukung penyebaran penyakit leptospirosis.

Perlu diketahui juga bahwa vaksin leptospirosis untuk manusia belum diproduksi karena terlalu banyak serotipe yang menyerang manusia. Lain halnya dengan yang menyerang anjing, serotipe yang menyerang anjing sangat terbatas sehingga vaksin untuknya sudah dapat diproduksi.

Jadi, jangan pernah anggap remeh tikus got…Klo kita jorok mereka bisa membahayakan kesehatan kita. Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan dan semoga bencana yang sedang melanda Indonesia dapat segera berlalu.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

10 Tanggapan to “Banjir, Leptospirosis dan Tikus”

RSS Feed for Balivetman’s Weblog – Sebuah Goresan Veteriner Comments RSS Feed

Pertamax …
Dulu di tempat saya di Padangbai, banyak tikus got berkeliaran. Besar-besar lagi. Sekarang sudah agak mendingan.
Mungkin Eka bisa merekomendasikan anjing sebagai hewan penangkal tikus. Caranya gampang sekaleee.
Tapi jangan meonx ya, soalnya jijay ah…

meonx juga boleh klo mau he……

tikus got… nasibmu kini😀 di omongin yg punya blog…😀

yo namana aja tikus,
sekali tikus tetap tikus.
yang sabar aja yach…
hehehe…

wah, jd ngeri juga ya. untung di rumahku adanya tikus2 kecil. itu pun sudah bikin repot. sampe beli racun dan jebakan, tetep aja msh pd hidup.

kali niru koruptor yg ga dihukum2 itu ya.🙂

Sharing informasi yang menarik. Salam kenal dari Ambon.

nice blog ……….bli

hi there ….kenalan ya.

to agung…
thanks for visiting and sering-sering main ke blog saya ini ya….

tikus juga makHLuk TuhaN…


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: