Toward Extincty

Posted on Juni 17, 2008. Filed under: Sekitar kita, wild life |

Waktu torang masih kecil, torang selalu dengar cerita dari orang tua kalau di Tangkoko banyak babi rusa. Maar sampai torang so basar bagini, torang nyanda pernah kia yang namanya babi rusa. Semua itu cuma tinggal cerita.

Ucapan itu disampaikan oleh Esli Kakauhe (19) seperti dikutip dari harian Kompas pada tanggal 30 April 2008 yang lalu. Dalam bahasa Indonesia, ucapan Esli dapat diterjemahkan sebagai berikut, “Ketika masih kecil, kami selalu dengar dari orang tua bahwa di Tangkoko banyak babirusa. Tetapi sampai sekarang sudah besar seperti ini kami tidak pernah melihat yang namanya babirusa. Semua itu hanya tinggal cerita.

Itu adalah sekilas cerita sedih tentang keberadaan satwa liar di Indonesia khususnya yang termasuk dalam kategori satwa endemik. Selain babirusa di tanah kelahiran Esli, tentu masih banyak lagi satwa-satwa liar yang dalam perjalanan pasti menuju kepunahan di daerah lain. Mari kita coba untuk merenung sejenak kenapa sih satwa liar bisa punah?

Kepunahan satwa liar dapat digolongkan menjadi dua yaitu, kepunahan alami dan kepunahan sebagai akibat dari ulah manusia. Kepunahan alami, artinya kepunahan yang terjadi secara alami tanpa campur tangan manusia. Misalnya akibat dari letusan gunung berapi pada daerah-daerah yang memiliki satwa endemic.

Kepunahan satwa pada masa sekarang ini lebih banyak disebabkan oleh ulah manusia. Lebih dari 99% spesies yang punah saat ini disebabkan oleh kegiatan manusia. Kegiatan manusia yang dapat menyebabkan kepunahan satwa liar adalah perusakan habitat, eksploitasi yang berlebihan dan introduksi satwa asing.

Perusakan Habitat

Kepunahan satwa liar sebagian besar disebabkan oleh kerusakan dan perubahan habitat. Hutan-hutan diubah menjadi lahan industri, pemukiman, pertanian, pertambangan dan perumahan. Hewan-hewan yang hidup di hutan tersebut hanya mempunyai dua pilihan, “pindah atau mati”. Bagi hewan yang memiliki kemampuan terbatas untuk pindah maka kematian dengan pasti akan menjemput mereka. Dan hewan yang mampu pindahpun akan terus dikejar oleh aktivitas manusia hingga akhirnya tidak ada lagi tempat untuk mereka melarikan diri bersembunyi.

Kerusakan habitat juga disebabkan oleh polusi. Misalnya, masih ada orang yang menganggap sungai dan laut adalah tempat pembuangan sampah. Berbagai jenis sampah dibuang disana mulai dari limbah rumah tangga, plastic, deterjen, hingga limbah industri yang beracun. Akibatnya, ikan-ikan di sungai mati dan hasil tangkapan lautpun terus menurun.

Eksploitasi Berlebihan

Eksploitasi berlebihan adalah pemanfaatan satwa yang jauh melampaui kemampuan satwa tersebut untuk berkembang biak secara alami. Pemanfaatan yang dilakukan dengan bijaksana akan memberikan keuntungan bagi manusia dalam jangka panjang.

Misalnya perburuan liar, salah satu contohnya adalah perburuan paus untuk kepentingan komersil dengan menggunakan peralatan modern dan terjadi secara besar-besaran sehingga jumlah paus terus menurun.

Perdagangan Satwa Liar

Saat ini banyak satwa liar yang diperjualbelikan di pasar-pasar burung, yang tidak hanya menjual burung saja namun juga menjual berbagai satwa liar lainnya seperti orangutan, kucing hutan, ular, kera, bahkan harimau. Satwa-satwa tersebut diperdagangkan dalam keadaan hidup sebagai satwa peliharaan, dalam bentuk awetan, bahan dasar obat dan untuk souvenir.

Satwa-satwa yang diperdagangkan tersebut merupakan hasil penangkapan di alam dan bukan hasil penangkaran. Hal yang menyedihkan adalah selama proses penangkapan dan transportasi sebelum satwa tersebut dijual, banyak yang mengalami kematian karena tidak mendapatkan perlakuan yang layak. Artinya jika semakin banyak satwa liar yang diperdagangkan maka akan semakin banyak satwa yang ditangkap dari alam, dan jika hal ini terus berlangsung maka satwa liarpun dengan pasti sedang menuju kepunahan.

Introduksi Satwa

Introduksi satwa artinya memasukkan suatu jenis satwa ke suatu daerah, yang sebelumnya di daerah tersebut tidak ada jenis satwa tersebut atau dengan kata lain satwa tersebut bukan merupakan satwa asli daerah tersebut.

Mungkin ada yang berpikir alangkah indahnya jika gajah Sumatera kita introduksikan ke pulau Jawa sehingga kita tidak perlu jauh-jauh ke Sumatera jika ingin melihat gajah Sumatra secara alami. Namun Jawa berbeda dengan Sumatera, masih cukupkah hutan di Jawa untuk menampung gajah? Jangan-jangan gajah tersebut malah akan merusak pertanian di Jawa. Nah, kalau sudah begitu yang rugi adalah manusia. Makanya jangan sekali-kali tanpa pertimbangan ilmiah yang sangat matang untuk introduksi satwa liar ke daerah yang bukan habitat aslinya.

Ayo Cegah Satwa Punah

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: