Wong Alas

Posted on November 22, 2008. Filed under: Sekitar kita |

Dua pasang mata menatap heran ketika saya turun dari motor trail dan menyapa mereka. Mereka melongo, tak segera menyahut sapaan saya seperti kebanyakan orang desa yang segera menjawab ketika disapa. Entah apa yang membuat mereka tidak segera menyahut. Mungkin mereka heran bagaimana saya dengan motor jangkung itu bisa sampai di puncak bukit yang biasanya hanya bisa dicapai dengan jalan kaki. Yang jelas, saya akan lempar handuk jika diharuskan jalan kaki mendaki bukit terjal tersebut. Atau mereka heran melihat ban motor saya yang sebesar irisan tahu.
Sesata setelah diselimuti rasa heran, kedua petani itu segera mengembangkan senyum menunjukkan giginya yang kuning. Dengan ramahnya mereka menyapa saya. Saking ramahnya, mereka menghentikan pekerjaannya mencangkul dan ikutan nggelesot, duduk di tanah bersama saya. Obrolan bak seorang sahabat yang lama tak jumpapun mengalir menghangatkan bukit di lereng gunung Arjuna yang lumayan dingin itu.
Kedua petani itu bertahun-tahun, sejak jaman kakek buyut, sudah menjadi petani. Atau lebih tepatnya disebut peladang karena mereka hanya menggarap lahan pertanian tersebut dengan mengandalkan curahan hujan dari langit. Tidak ada irigasi dan sungai yang bisa mengairi ladang mereka. Praktis dalam setahun mereka hanya bertanan sekali. Biasanya sayur mayur seperti kubis, sawi, cabe, tomat atau jagung.
Tanah yang mereka garap bukan tanah mereka sendiri, melainkan menyewa dari Perhutani. Luasnya berhektar-hektar, asal kuat menyangkul, mereka bisa menanam di sela-sela pohon produksi milik Perhutani seluas-luasnya.
Mereka spesialis peladang di tepi hutan. Menjadi peladang di tepi hutan tidaklah semudah peladang biasa di lahan “normal“. Tantangannya lebih berat. Bukan saja medannya yang bikin ngos-ngosan atau tempatnya yang terpencil, tetapi juga harus siap “berinteraksi“ dengan penghuni asli hutan. Cerita peladang bertemu gerombolan monyet, lutung, atau babi hutan adalah cerita biasa. Belum lagi jika harus terpaksa kepergok sang predator di hutan Jawa, macan tutul, sudah menjadi resiko yang harus diambil.
Banyak cerita dan juga berita di koran tentang ganasnya monyet dan lutung yang menyerbu ladang. Atau berita tentang petani yang diterkam harimau, atau sebaliknya berita tentang ganasnya manusia yang menerjang harimau dengan pelor panas dengan seribu alasan. Saya bertanya kepada kedua petani itu, apakah mereka punay masalah dengan binatang selama mereka berladang di tepi hutan.
“O alah mas, namanya juga bekerja di hutan, jadi wong alas  (orang hutan), ya mesti sering ketemu dengan kewan (binatang),“ jawab petani yang lebih tua sambil menghisap dalam-dalam rokok tanpa merk. Yang bikin saya kaget adalah bukan jawaban itu tetapi cerita mereka bahwa sepanjang “karir“ mereka sebagai peladang, mereka tidak pernah mau membunuh binatang liar. Mereka takut kualat jika membunuh binatang seperti monyet ataupun babi hutan.
Jika ada monyet yang mengambil sayur atau jika ada lutung yang memakan sebagian jagung mereka, bagi mereka itu adalah memang jatah buat minyet dan lutung tersebut. Toh mereka (petani) sudah mengambil jatah hutan yang seharusnya menjadi tempat bagi monyet dan lutung. “Yang di atas (Tuhan) sudah mengaturnya mas, enggak mungkin monyet itu akan menghabiskan semua sayur kami“, tambah petani yang lebih muda.
Hebat benar pemikiran petani itu. Mereka telah berbicara tentang kearifan lingkungan. Mereka telah mempraktekan ilmu animal welfare, meskipun mereka tidak pernah mendapatkan pelatihan tentang itu. Mereka memahaminya dengan kearifan mereka, mereka ikhlas berbagi ruang dan waktu dengan satwa. Mereka tulus “bersedekah“ kepada satwa. Sebuah ketulusan dan keikhlasan yang sudah jarang ditemukan di perkotaan yang mengaku lebih beradab dibandingkan dengan wong alas.
Sering kali kita menjadi peduli kepada binatang atau satwa karena kita bekerja pada organisasi satwa atau organisasi lingkungan. Kemana-mana memakai kaos yang bertuliskan jargon-jargon untuk melindungi satwa. Kata-kata Save the Wildlife menjadi kalimat yang umum didengungkan dan menempel di poster, sticker atau kaos oblong yang dipakai para “aktivis“. Namun sudahkah ras cinta terhadap satwa itu menempel di hati kita yang paling dalam? Bukan sekedar menempel di atas kaos?
Hari itu saya mendapat ilmu yang berharga dari petani yang mengaku wong alas tentang arti berbagi dan bersedekah kepada satwa. Sayapun malu akan kejumawanan saya yang merasa telah banyak bersedekah terhadap satwa. “Sedekah“ saya tidak ada artinya dibanding kedua petani itu. Hari itu saya bahagia karena dicerahkan dalam sebuah “diskusi“ dengan wong alas di lereng gunung Arjuna. Itu sebuah “diskusi“ yang luar biasa, jauh lebih bermakna dibandingkan dengan diskusi-diskusi dan ratusan workshop yang telah saya ikuti di hotel-hotel mewah.

Nb: artikel di atas saya kutip dari majalah Suara Satwa Media Informasi Profauna Indonesia volume XII No.2/April-Juni 2008, yang ditulis oleh Rosek Rursahid/Chairman Profauna Indonesia.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

3 Tanggapan to “Wong Alas”

RSS Feed for Balivetman’s Weblog – Sebuah Goresan Veteriner Comments RSS Feed

Dimana sih gunung arjuna itu ?

Eka…eka belum apdet sibuk yah ? ke hutan lagi ?

pupuk organik, Kesuburan berkurang krn pemakaian pupuk kimia, beralihlah ke pupuk organik , dgn pemakaian yg bijaksana & sesuai kebutuhan, gunakan pupuk organik, selamatkan bumi tanah air.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: