Aquatic

From Kuta Beach Let’s Save the Sea Turtles

Posted on Agustus 24, 2008. Filed under: Aquatic, Curhat, proFauna, Sekitar kita |

Beberapa hari yang lalu (21-08-08) proFauna perwakilan Bali dan beberapa anggota proFauna dari Malang menggelar aksi dan pameran tentang penyu di depan kantor satgas pantai Kuta. Aksi damai ini dengan cara menggelar spanduk yang bertuliskan FREEDOM FOR SEA TURTLES di pantai Kuta dan membagi-bagikan brosur dan stiker tentang penyelamatan penyu.

Jujur aja ini baru pertama kalinya saya ikut aksi proFauna, sebelumnya saya pikir kali ini hanya pameran biasa dan pelepasan tukik aja seperti biasanya. Ternyata capek juga berdiri selama 2 jam sambil megangin spanduk dengan angin yang berhembus cukup kencang dan punggung lumayan panas terbakar matahari. Setelah sekian lama ga pernah berdiri lama sambil berjemur ternyata capek juga ya. Terakhir kali saya berdiri sambil dijemur waktu masa orientasi dulu ato SMA ya? Sudah lupa maklum bandel jadi sering dihukum 😀

Oya berikut ini screenshot stand pamerannya

Tujuan dari acara ini adalah untuk menggugah kesadaran masyarakat untuk turut serta ambil bagian dalam penyelamatan dan perlindungan satwa liar khususnya penyu di pantai Kuta. Karena pantai Kuta selain sebagai daerah tujuan wisata juga sebagai daerah tujuan peneluran penyu. Sejak tahun 2002-2007 terdapat ratusan penyu yang ditemukan bertelur di sekitar pantai Kuta. Dalam rentang waktu tersebut terdapt lebih dari 8000 butir telur penyu yang ditemukan di sekitar pantai Kuta dan 6.000 diantaranya sudah berhasil menetas dan dilepaskan ke laut. Oya sekedar informasi, siapa tau diantara Anda ada yang berkunjung ke pantai Kuta pada bulan Maret- September dapat menyaksikan penyu bertelur atau ikut serta dalam acara pelepasan tukik antara bulan Mei- Oktober.

Oya waktu itu saya ketemu lagi dengan orang Medan yang waktu ini ikut serta dalam menyaksikan detik-detik menegangkan ketika penyu menetas. (maaf saya belum sempat kenalan) tampak bapak tersebut sangat antusias ikut serta dalam acara kali ini. Selain bapak itu tampak wisatawan baik domestic maupun manca negara sangat antusias dalam acara pelepasan tukik sebagai acara penutup pada kegiatan hari itu. Para bule juga berebut ingin foto dengan 3 ekor “penyu” raksasa.

Berikut ini beberapa foto lagi selama acara berlangsung

Tampak para penyu sedang membagi-bagikan brosur dan stiker

Kegiatan ini hanyalah kegiatan kecil yang tidak ada artinya tanpa dukungan dan peran serta dari seluruh masyarakat dalam penyelamatan penyu. Tapi dari kegiatan kecil ini kami berharap dapat menyelamatkan keberadaan penyu yang semakin langka.

Support Us to Save the Sea Turtle because They Won’t Survive Without Our Help

NB: untuk informasi lebih jauh ataupun jika kebetulan anda menemukan penyu bertelur di sekitar pantai Kuta silahkan hubungi Satgas Pantai Kuta (+62 361 762 871) atau bias juga menghubung PROFAUNA BALI OFFICE di PO BOX 3435 Denpasar Bali Indonesia 80034 hotline-nya +62 361 80 858 00

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 6 so far )

Pelepasan Tukik Bareng Artis.

Posted on Juli 10, 2008. Filed under: Aquatic, proFauna, Sekitar kita |

Wah udah lama saya ga update blog ini, karena keasyikan dengan blog saya yang ekads.co.cc. Lama ga update bukan berarti saya sudah melupakan blog ini ataupun sudah meninggalkan blog ini. Kali ini saya akan kembali berbagi pengalaman saya bersama proFauna.

Kemarin kita kembali melepaskan tukik yang baru netas ke laut lepas. Lokasinya sama dengan yang dulu yaitu di pantai Kuta klo pelepasan tukik yang di Klungkung saya belum pernah ikut karena selalu berhalangan setiap ada acara nglepas tukik di Klungkung. Kali ini kita ngelepas sebanyak 47 ekor tukik. Istimewanya pelepasan tukik kali ini dibarengi dengan acara shooting Suami-Suami Takut Istri (yang katanya sih versi layar lebarnya). Di ceritanya ada scene dimana pelepasan penyu dilakukan oleh beberapa artisnya. Klo mau tau lebih jelasnya mungkin anda harus menunggu klo filmnya sudah beredar.

Acara pelepasan kemarin diikuti oleh ratusan peserta. Maklum karena sedang musim liburan sekolah, pantai Kuta ibarat pasar dadakan jadi para wisatawan baik domestik maupun dari manca negara yang sedang menikmati indahnya pantai Kuta ikut beramai-ramai ambil bagian dalam acara ini. Mereka berebut ingin ikut melepas tukik padahal tukik yang dilepas jumlahnya terbatas. Jadi hanya orang-orang yang sudah mendaftar yang dapat melepas tukik secara langsung dan sisanya hanya bisa jadi penonton saja.

Tukik tidak langsung dilepaskan ke laut tapi beberapa meter dari laut. Jadi tukik-tukik ini harus berjuang untuk menuju ke air. Hal ini dimaksudkan agar para tukik dapat melakukan magnetik imprinting lokasi tersebut sehingga mereka akan kembali lagi ke tempat dimana mereka menetas untuk bertelur. Perlu diingat hanya penyu betina yang akan kembali ke daratan untuk bertelur sedangkan penyu jantan hanya akan menunggu di daerah pakan tanpa secara langsung kembali ke daratan.

Kemarin, saya baru tau klo ada sekelompok orang yang menjadikan acara pelepasan penyu sebagai ajang bisnis yaitu dengan menyuruh para peserta yang ingin ikut serta dalam acara pelepasan penyu di tempat lain harus membayar seharga seratus ribu rupiah. Mungkin bagi kita ga mungkin akan mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk ikutan acara pelepasan tukik tapi lain ceritanya kalau turis yang ditawari. Saya jadi geram mendengarnya, ditengah perlunya upaya-upaya untuk melestarikan penyu yang sudah semakin berkurang jumlahnya di dunia masih ada saja orang yang mengambil keuntungan dari hal tersebut.

Kemarin juga tangan-tangan usil yang ingin menangkap tukik yang sudah dilepaskan ke laut tersebut. Untung hal ini diketahui oleh bli Wayan dan Gung Aji satgas pantai Kuta. Katanya tukik tersebut ditangkap lagi ketika dihempaskan ombak dan disembunyikan dibalik baju yang dikenakannya. Mungkin orang itu ingin memeliharanya dirumah atau yang lainnya. Yang jelas tindakan seperti ini sangat membahayakan keberadaan penyu di dunia.

Mengingat perkembangan penyu yang sangat lambat dan hanya 1 dari 1000 ekor tukik yang menetas mampu menjadi dewasa dan kemudian bereproduksi kembali, mari kita bersama-sama ikut menjaga dan melindungi penyu. Jika anda menemukan penyu terdampar atau anda sedang beruntung menemukan penyu yang bertelur di pantai segera hubungi BKSDA terdekat agar kelangsungan hidup penyu dapat terselamatkan.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 5 so far )

Pencegahan dan Pengobatan Penyakit pada Budidaya Ikan

Posted on Maret 17, 2008. Filed under: Aquatic |

Penyakit pada budidaya ikan merupakan hal yang menakutkan bagi petani.betapa tidak, hasil kerja keras mulai dari persiapan lahan, penebaran benih, sampai dengan pemeliharaan yang penuh dengan kehati-hatian akan sirna atau berganti dengan kerugian apabila ikan terkena penyakit.

Kenapa ikan sakit? Dalam kondisi normal yaitu lingkungan optimal dan daya tahan tubuh yang baik, ikan sebenarnya jarang terkena penyakit. Namun, apabila kondisi lingkungan tidak cocok, ikan akan stress dan daya tahan tubuh menurun. Bila sudah begitu, maka penyakit akan dengan sangat mudah muncul.

Beberapa hal yang dapat menyebabkan kondisi tubuh ikan melemah, diantaranya kualitas air yang buruk, nutrisi yang tidak terpenuhi, serta kepadatan yang terlalu tinggi. Akibatnya terjadi komposisi tidak sehat antara oksigen, makanan, dan lain-lain.

Sumber penyakit terdiri dari virus, bakteri, parasit, dan sumber lain yaitu kekurangan nutrisi dan rusaknya kualitas air.

Bagaiman mendeteksi ikan yang terkena penyakit? Ikan sakit ditandai dengan tingkah laku yang tidak sepeti biasanya dan ditemukan kelainan pada organ tubuh.

            Tanda-tanda tingkah laku ikan sakit diantaranya:

  1. berenang tidak terkendali, bahkan menabrak pematang.
  2. membuka dan menitup insang lebih lebar dan cepat (mengap-mengap)
  3. mengosok-gosokan badan pada benda-benda yang ada di kolam
  4. tidak mau makan
  5. berkumpul di inlet (tempat air masuk)
  6. dan lain-lain

tanda-tanda pada bagian tubuh diantaranya:

  1. kelainan pada tulang belakang
  2. produksi lendir lebih banyak dari biasanya
  3. proporsi tubuh tidak seimbang (cenderung kurus)
  4. adanya luka dan perdarahan
  5. warna kulit lebih pucat atau gelap (tidak cerah)

Apabila tanda-tanda tersebut ditemui maka segera lakukan perbaikan kualitas air, penambahan vitamin pada pakan, dan melakukan pengobatan dengan segera.

Pencegahan penyakit

Mencegah lebih baik daripada mengobati, selain lebih ekonomis karena ter        hindar dari kerugian yang besar akibat kematian massal ikan. Paling tidak aa tiga hal yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit.

  1. Melakukan persiapan lahan yang benar, yaitu pengeringan, pengapuran dan pemupukan. Pengeringan bertujuan untuk memutus siklus hidup penyakit. Dilakukan kira-kira selama tiga minggu sampai dasar kolam retak-retak. Pengapuran digunakan untuk menstabilkan pH tanah dan air serta dapat membunuh bakteri dan parasit. Pemupukan digunakan untuk menyuburkan kolam dan menumbuhkan fitoplankton sebagai pakan alami.
  2. Menjaga kualitas air pada saat pemeliharaan. Untuk itu dapat dilakukan treatment probiotik secara teratur 0,3 ppm setiap hari. Probiotik akan mendegradasikan bahan organik, menguraikan gas beracun dan menekan pertumbuhan bakteri merugikan penyebab timbulnya penyakit.
  3. Meningkatkan ketahanan tubuh ikan melalui kekebalan non spesifik dengan aplikasi imunostimulant secara teratur seperti vitamin, β- glukan, dan mannan oligischaride.

Pengobatan penyakit

Apabila ikan terlanjur terserang penyakit segera dilakukan pengobatan sesuai penyebab penyakit. Antibiotik diberikan untuk penyakit yang disebabkan oleh bakteri, anti parasit diberikan untuk penyakit-penyakit yang disebabkan oleh parasit. Untuk penyakit-penyakit virus, treatment yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan ketahanan tubuh ikan melalui pemberian vitamin terutamanya vitamin C.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 11 so far )

Only ONE From 1000 Will Survive

Posted on Desember 19, 2007. Filed under: Aquatic |

 

 save the sea turtle

Dalam lima puluh tahun terakhir ini populasi penyu terus menurun dengan drastis dan dikhawatirkan akan punah jika tidak ada upaya untuk melestarikannya. Pertumbuhan penyu sangat lambat, mereka mencapai usia dewasa untuk kawin dan bertelur rata-rata pada umur 30 tahun.

Telur penyu khan banyak, kok bisa terancam punah?

Dalam sekali bertelur, seekor penyu betina bisa mengeluarkan 100 butir telur (300-400 butir dalam satu kali siklus peneluran). Tingkat keberhasilan penetasan bervariasi, namun dalam kondisi normal cukup tinggi, bisa lebih dari 80%. Menurut para ahli, bahwa karena tingginya ancaman di alam, dari 1000 ekor tukik yang menetas hanya 1 ekor yang mampu bertahan hidup hingga dewasa.

Apa ancaman utama penyu di Indonesia?

Ancaman utama bagi penyu di Indonesia dapat dibagi dua yaitu, faktor alam dan faktor manusia. Faktor alam dapat berupa predator sepert burung dan ikan-ikan besar lainnya. Yang kedua adalah ancaman akibat kegiatan manusia, seperti rusaknya habitat pakan dan peneluran penyu yang sudah berubah menjadi hotel, restaurant, dan kawasan wisata. Hal ini diperparah dengan masih tingginya perdagangan penyu dan bagian-bagiannya di beberapa daerah seperti Bali, Jawa Barat, Kalimantan dan Sulawesi. Di Bali, penyu hijau diperdagangkan terutama untuk diambil dagingnya, setiap tahunnya ada ribuan penyu yang didatangkan untuk diperdagangkan ke Bali.

Penyu-penyu tersebut didatangkan dari Aru, Kalimantan, Flores, Madura dan Jawa. Bagian tubuh penyu lainnya seperti kerapas penyu sisik banyak digunakan sebagai bahan cenderamata, demikian juga telur penyu juga banyak diperdagangkan untuk dikonsumsi.

Kedua ancaman tersebut harus ditangani dengan cepat dan tepat untuk menghindari kepunahan mereka. Ancaman lain yang tidak kalah berbahayanya adalah tangkapan samping (by-catch) dari armada-armada pukat harimau kapal penangkap ikan sekala besar. Walaupun sudah ada teknologo TED (Turtle Excluded Device) yang dapat membuat penyu keluar lagi dari jaring pukat harimau, namun penerapan alat dan hukumnya di Indonesia masih tidak tegas. Jaring hantu (jaring yang sudah tidak terpakai yang kemudian dibuang di laut begitu aja) juga merupakan ancaman bagi penyu.

Upaya apa dilakukan untuk menyelamatkan penyu di Indonesia?

Ada dua hal utama yaitu perlindungan habitat pakan dan peneluran dan eleminasi tingkat konsumsi daging dan telur. Selain itu perlu juga dilakukan program yang terintegritasi dengan sektor perikanan untuk menekan aktivitas tangkapan samping dan jaring hantu.

Apa yang dapat kita lakukan untuk menyelamatkan penyu? 

Pada tingkat individu yang paling mudah dilakukan adalah tidak mengkonsumsi daging dan telur maupun memakai barang-barang dari tempurung penyu. Selain itu kita dapat turut menjaga kenersihan pantai dan laut tempat hidup penyu, dengan antara lain tidak membuang sampah kesana apalagi yang berupa plastik. Banyak penyu yang mati karena menelan sampah plastik yang dikira makanannya yaitu ubur-ubur.

Postingan terkait:

About Sea Turtles

Sea Turtles Life Cycle 

sumber gambar: http://www.barbsbooks.com/images/SaveSeaTurtles.jpg

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 4 so far )

Sebuah Renungan tentang Kelautan

Posted on Desember 19, 2007. Filed under: Aquatic, Curhat, Sekitar kita |

Sebelumnya, saya ingin cerita dulu kenapa saya nulis postingan ini. Waktu itu (15/12-07), saya menjemput ibu yang sedang rapat.Sambil menunggu, saya membaca buku yang ada di perpustakaannya (Ibu saya adalah seorang guru SD). Saya tertarik dengan buku seri kelautan yang ada di salah satu rak disana (daripada nunggu sambil bengong khan lebih baik isi waktu dengan baca. Betul ga…?)

Pengantar dalam buku tersebut ditulis oleh Prof. Dr Otto Soemarwoto (saya tidak tahu Beliau ini siapa). Yang jelas isi tulisan Beliau kurang lebih seperti berikut.

Indonesia adalah negara kepulauan. Jumlah pulaunya sekitar 17.000 pulau (klo ga percaya silahkan hitung sendiri), yang terbentang dari Sabang sampai Merauke (berjajar pulau-pulau….. eh, kok malah jadi nyanyi :-)). Luas daratan hanya sepertiga dari 6 juta kilometer persegi dari luas lautan. Dengan panjang pantai sekitar 81.000 km. Dengan kondisi seperti ini tampak dengan jelas bahwa negarakita adalah sebuah negara bahari.

Tapi sayangnya negara kita bukanlah sebuah negara bahari, melainkan bangsa yang berorientasi pada daratan. Misalnya, dulu ibukota Riau adalah Tanjung Pinang yang terletak di sebuah pulau di tengah laut. Tetapi kemudian dibangun ibukota baru, yaitu Pekanbaru yang terletak di tengah daratan (saya baru tahu hal ini).

Pembangunan kita juga berorientasi pada daratan. Misalnya, kita banyak berbicara tentang jalan raya lintas sumatra dan jalan raya lintas Jawa. Juga tentang pembangunan jembatan antar pulau misalnya, jembatan Jawa-Bali. Tetapi pembangunan transportasi laut sangat samar terdengar. Kapal-kapal banyak yang tua. Mercu suar dan rambu-rambu laut yang sangat penting untuk transportasi laut tidak banyak mengalami modernisasi. Perjalanan dengan kapal laut tidaklah nyaman dan juga tidak aman, sering terjadi kecelakaan.

Laut sering dianggap pemisah pulau. Padahal laut sebenarnya adalah penghubung pulau yang satu dengan pulau yang lain. Laut merupakan jalan raya yang disediakan oleh alam. Kita tidak perlu membangun ataupun merawatnya. Kita hanya perlu membangun sarana transportasinya (kapal) dan terminalnya (pelabuhan). Jadi akan sangat jauh lebih murah untuk memodernisasi kapal-kapal feri yang menghubungkan Sumatra-Jawa, Jawa-Bali, Bali-Lombok dibandingkan membangun jembatan.

TNI kita juga lebih didominasi oleh Angkatan Darat. Letak geografis kita antara Lautan Hindia dan Lautan Pasifik memerlukan angkatan laut yang kuat, karena laut kita merupakan penghubung kedua lautan tersebut. Tetapi Angkatan Laut kita lemah. Tidak mempunyai kapal perang modern. Jumlah kapal patrolipun tidak memadai untuk patroli laut kita yang sangat luas. Angkatan Laut kita diperlukan untuk menjaga bila terjadi perompakan laut, penyelundupan senjata dan pencurian ikan.

Laut kita banyak mengandung kekayaan, antara lain ikan, rumput laut, dan mutiara. Disepanjang pantai terdapat sekitar 350.000 ha tambak. Terumbu karang kita luasnyasekitar 7.500 meter persegi yang merupakan sumber daya yang sangat penting untuk perikanan dan pariwisata. Dasar laut kita juga kaya akan minyak bumi dan gas alam.

Tidak banyak pula orang Indonesia yang terjun dalam ilmu kelautan. Padahal kehidupan kita sangat dipengaruhi oleh laut., antara lain iklim kita. Misalnya, musim hujan dan musim kemarau kita. Bahkan El Nino juga dipengaruhi oleh lautan.

Mari kita bersama-sama menjaga laut kita, khusunya dari pengrusakan dan polusi. Jadi, udah ada yang tertari untuk lebih mendalami kelautan?

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 5 so far )

Kebiasan Makan Ikan

Posted on November 27, 2007. Filed under: Aquatic |

 fish

Seperti manusia, ternyata ikan juga punya kebiasaan. Ternyata, setiap ikan punya kebiasaan makan yang berbeda-beda (dikenal dengan istilah food habits). Berdasarkan hal tersebut di atas, jenis-jenis ikan dapat dibedakan menjadi :

1. Berdasarkan tempat atau lokasi makan :

  • pemakan di dasar perairan
  • pemakan di lapisan tengah
  • pemakan di permukaan
  • pemakan penempel

2. Berdasarkan waktu makan :

  • siang hari, seperti ikan nila, ikan mas, ikan kerapu, ikan bandeng, dll
  • malam hari (noktural), seperti lele, udang air tawar, udang air laut

3. Berdasarkan jenis makanan :

  • pemakan daging (karnivora), seperti ikan lele, gabus, kakap
  • pemakan tumbuhan (herbivora), seperti ikan gurami, tawes
  • pemakan hewan dan tumbuhan (omnivora), seperti ikan mas, nila
  • pemakan plankton, seperti ikan sepat
  • pemakan sampah (dendritus), seperti ikan belanak

Jenis makanan ikan selain dapat diamati pada saat ikan makan juga dapat dilihat dari panjang ususnya. Ikan dengan panjang usus 3-7x panjang badannya merupakan herbivora. Ikan dengan panjang usus sama dengan panjang badannya adalah karnivora.

Pakan ikan terdiri dari 2 macam, yaitu pakan alami dan pakan buatan.  Pakan alami diperoleh dari alam atau diberikan sebagai tambahan setelah sengaja dibudidayakan. Pakan alami lebih sesuai diberikan pada ikan muda (benih), sedangkan pakan buatan lebih sesuai untuk ikan dewasa.

Selain kedua jenis pakan tersebut, ada juga yang disebut sebagai pakan alternatif. Pakan ini berasal dari limbah peternakan, pemindangan, ikan runcah, bahkan hama tanaman. Pakan alternatif tidak dapat diberikan langsung begitu saja. Ayam mati/bangkai harus dibuang bulunya dan direbus sebelum diberikan pada lele (lokal atau dumbo) Karena lele tidak suka bulu ayam. Lele aja ga suka makan bulu ayam apalagi manusia.  Ikan runcah,bekicot dan keong mas yang merupakan hama padi dapat dipakai untuk pakan lele dengan memisahkan tulang dan dagingnya (ikan juga ga suka tulang /cangkang). Limbah pemindangan yang berupa kepala, ekor, sirip maupun isi perut dapat diberikan langsung ataupun dicampur dengan dedak halus dan direbus setengah matang.

Ikan runcah merupakan hasil tangkapan dari laut yang tidak layak dikonsumsi manusia. Ika runcah ukuran kecil dan sedikit duri/tulang dapat diberikan langsung. Bila ikan runcah banyak duri/tulang sebaiknya direbus setengah matang agar mudah memisahkan daging dan tulang.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 23 so far )

Sea Turtle’s Life Cycle

Posted on November 12, 2007. Filed under: Aquatic |

Seluruh spesies penyu laut memiliki siklus hidup yang sama. Penyu mempunyai pertumbuhan yang sangat lambat dan memerlukan berpuluh puluh tahun untuk mencapai usia reproduksi. Mereka hidup bertahun-tahun di satu tempat sebelum bermigrasi untuk kawin dengan menempuh jarak yang jauh (hingga 3000 km) dari daerah pakan ke pantai peneluran. Pada umur yang belum terlalu diketahui (sekitar 20-50 tahun) penyu jantan dan betina bermigrasi ke daerah peneluran di sekitar daerah kelahiran mereka. Perkawinan mereka terjadi di lepas pantai satu atau dua bulan sebelum peneluran pertama di musim tersebut. Baik penyu jantan maupun betina memiliki beberapa pasangan kawin. Penyu betina menyimpan sperma penyu jantan di dalam tubuh mereka untuk membuahi tiga hingga tujuh kumpulan telur (nantinya menjadi 3-7 sarang) yang akan ditelurkan musim tersebut.

Penyu jantan biasanya kembali ke daerah pakan mereka sesudah penyu betina menyelesaikan kegiatan bertelur dua mingguan mereka di pantai. Saat penyu betina siap, dia keluar dari laut dan menggunakan sirip depannya untuk menyeret tubuhnya ke pantai peneluran. Ia membuat lubang badan dengan sirip depannya lalu menggali lubang sarang sedalam 30-60 cm dengan sirip belakang. jika pasirnya terlalu kering dan tidak cocok untuk bertelur, si penyu akan akan berpindah ke lokasi lain.

Kebanyakan penyu memerlukan waktu sekitar 45 menit untuk menggali sarang serta10-20 menit untuk meletakkan telurnya. Tiap sarang berisi sekitar 120 butir telur kecuali penyu pipih (50 telur) dan belimbing (90 telur). Ukuran telur berkisar dari sebesar bola golf (penyu sisik) hingga bola billiard (penyu pipih).

Setelah meletakkan telurnya penyu mengisi lubang sarang dengan pasir menggunakan sirip belakangnya, kemudian menimbun badan dengan keempat siripnya. Si penyu akhirnya kembali ke laut dengan lelah dalam waktu 1-2 jam setelah ia keluar dari laut. Pada daerah lepas pantai tersebut penyu mulai membuahi kumpulan sel telurnya dengan sperma yang ia simpan sebelumnya. Setelah musim peneluran berakhir penyu betina kembali ke daerah pakannya yang jauh. Ia tidak akan bertelur lagi untuk 2-8 tahun mendatang.

Suhu sarang saat inkubasi menentukan jenis kelamin tukik. Penyu betina dihasilkan dari sarang yang hangat dengan pasir warna gelap. Sarang yang relatif dingin dengan warna pasir putih umumnya menghasilkan penyu jantan dan memerlukan waktu lebi lama untuk menetas.

Tukik menetas setelah sekitar 7-12 minggu. Kelompok tukik memerlukan waktu dua hari atau lebih untuk mencapai permukaan tanah, biasanya pada malam hari. Untuk menemukan arah ke laut tukik berpatokan pada arah yang paling terang serta menggunakan topografi garis horison di sekitarnya. Begitu mencapai laut tukik menggunakan berbagai kombinasi petunjuk ( arah gelombang, arus dan medan magnet) untuk orientasi ke daerah lepas pantai yang lebih dalam. Kegiatan tukik melewati pantai dan berenang menjauh adalah upaya untuk merekam petunjuk-petunjuk yang diperlukan untuk menemukan jalan pulang saat mereka akan kawin. Proses ini disebut imprinting process.

Saat tukik sudah berada di laut , mereka diduga memasuki kawasan dimana arus-arus laut bertemu. Disana mereka menggunakan rumput-rumput laut yang mengapung serta benda apung lain yang terperangkan oleh arus laut sebagai makanan. Di sana mereka juga makan hewan-hewan laut kecil. Tukik jarang terlihat lagi hingga kerapasnya mencapai ukuran 20-40 cm dengan usia sekitar 5-10 tahun setelah menetas. Pada saat ini si penyu berenang kembali ke kawasan pakan di pesisir. Mereka tinggal di daerah tersebut sampai mereka siap memijah, dan saat itu pulalah siklus hidup penyu dimulai lagi.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 8 so far )

About Sea Turtles

Posted on Oktober 20, 2007. Filed under: Aquatic |

green-sea-turtle-reef3.jpg

Penyu adalah satwa yang tetap bertahan hidup sejak 100 juta tahun yang lalu sejak zaman cretaceous dan tetap lestari hingga sekarang. Penyu laut adalah reptil besar yang bernafas dengan paru-paru, hidup di perairan tropis dan subtropis di seluruh dunia. Tempurungnya terdiri dari bagian atas yang disebut dengan kerapas dan bagian bawah yang disebut plastron. Kecuali penyu belimbing, kerapas penyu dilindungi oleh sisik yang keras. Jumlah dan susunan sisik tersebut dapat digunakan untuk penentuan jenis species panyu laut.

Penyu laut Vs Kura-kura

Penyu tidak dapat menyembunyikan kepalanya di dalam tempurung seperti kura-kura. Penyu mempunyai sirip bukan cakar seperti pada kura-kura atau cakar bersirip seperti pada bulus (kura-kura air tawar). Dan tentunya penyu hidup di laut, kecuali penyu betina yang harus pegi ke darat (pantai) untuk bertelur.

Beberapa jenis penyu yang hidup di perairan Indonesia

Kita sungguh beruntung karena enam dari tujuh jenis penyu yang ada di dunia, dapat ditemukan di Indonesia. Mereka adalah penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu lekang/sisik semu (Lepidochelys olivacea), Penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu tempayan (Caretta caretta), dan penyu pipih (Natator depressus). Penyu pipih hanya mencari makan di perairan Indonesia, tidak untuk bertelur.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 4 so far )

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...