Kita perlu tahu

Global Warming dan Limbah Ternak

Posted on Januari 20, 2009. Filed under: Kita perlu tahu, Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3, Peternakan, Sekitar kita | Tag:, , , , , |

Global warming atau pemanasan global sudah menjadi isu hangat yang terus dibicarakan beberapa tahun belakangan ini. Mulai dari obrolan di warung kopi hingga ke forum diskusi internasionalpun isu ini sering dibahas.
Pada kesempatan ini saya tidak akan membahas tentang apa itu global warming, penyebab global warming, serta cara mengurangi dampak pemanasan global ini. Yang ingin saya singgung sedikit adalah tentang pengolahan limbah peternakan.
Klo udah ngomongin peternakan, sudah tentu yang terbayang adalah daging yang sering kita konsumsi tiap harinya. Tak dapat dipungkiri klo daging sudah menjadi menu wajib sebagian besar masyarakat Indonesia di saat waktu makan tiba (tentu saja kecuali bagi anda yang vegetarian).
Nah, tentu sudah bisa dibayangkan seberapa banyak daging yang harus tersedia tiap harinya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi protein asal hewan oleh masyarakat Indonesia. Tak mengherankan jika perkembangan dunia peternakan di Indonesia begitu pesat, dan peluang usaha di dunia peternakanpun masih terbuka lebar.
Selain menghasilkan protein hewani, ternyata tanpa kita sadari industri peternakan (entah itu peternakan yang hanya sebatas pekerjaan sampingan ataupun juga peternakan besar) juga menghasilkan limbah tiap harinya. Entah itu berupa kotoran ternak, air kencing, maupun yang lainnya. Dan ternyata “sumbangan“ kotoran ternak terhadap pemanasan global sangat tinggi.
Dari hasil iseng-iseng search di google tentang limbah ternak, ternyata ada banyak banget artikel yang membahas keterkaitan antara pengolahan limbah peternakan dengan pemanasan global (untuk lebih jelasnya mungkin anda bisa search langsung di google) :D. Ternyata selain sebagai sumber polusi dan pemicu efek rumah kaca, kotoran ternak juga sudah umum diketahui sebagai sumber energi alternatif yaitu biogas.
Tentunya ini menjadi peluang tersendiri bagi peternak dengan memanfaatkan kotoran ternaknya sebagai penghasil biogas. Para peternak besar mungkin sudah memiliki sistem pengolahan limbah ternak untuk dimenghasilkan biogas. Sayangnya hal ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh peternak kecil yang mungkin memelihara 1-2 ekor sapi di sela-sela kesibukannya bertani. Kotoran ternak belum mendapat perhatian yang khusus bagi mereka. Ada yang membuang langsung kotoran ternaknya ke sungai dan ada juga sebagian kecil yang mengolahnya menjadi kompos. Tanpa mereka sadari selain menimbulkan pencemaran lingkungan dengan membuang kotoran ternak langsung ke sungai juga dapat memicu pemanasan global.
Nah, hal ini mungkin menjadi PR bagi kita semua dalam mensosialisasikan cara-cara pengolahan limbah peternakan yang ramah lingkungan (misalnya tentang pembuatan biogas) khususnya pada peternak kecil. Disamping kita membantu mengurangi pencemaran lingkungan, juga secara tidak langsung membantu peningkatan status ekonomi peternak kecil karena mereka mampu menghasilkan produk sampingan dari hasil sampingan mereka beternak (ngertikan maksud saya) berupa biogas dan kompos.

NB: artikel ini saya buat dalam rangka ikut berpartisipasi dalam Kompetisi Website Kompas MuDA-IM3.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 14 so far )

Kesejahteraan Hewan Untuk Kesejahteraan Manusia

Posted on November 18, 2008. Filed under: Animal welfare, Kita perlu tahu | Tag:, |

Animal welfare atau di Indonesia dikenal dengan istilah kesejahteraan hewan/satwa merupakan isu global yang kini sedang deras disuarakan di seluruh dunia. Kesejahteraan hewan di Indonesia harus sudah mulai dipublikasikan kepada masyarakat. Walaupun sebetulnya masyarakat (peternak) telah memperlakukan hewan peliharaannya dengan baik dengan penuh kasih sayang karena mereka sadar bahwa dengan perlakukan yang baik hewan akan sehat, cepat tumbuh menjadi besar dan segera dapat dijual.

Namun dengan adanya kebijakan pemerintah untuk memacu produksi peternakan dengan menerapkan peternakan intensive masalah kesrawan mulai muncul. Pelanggaran kesejahteraan hewan menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan bagi hewan belum mendapat perhatian secara serius. Cara-cara persuasive seperti seminar, training dan lobby-lobby yang dilakukan tidak mendapatkan tanggapan dan respon yang positif dari pemerintah. Salah satu langkah yang dapat dilakukan dalam mensosialisasikan kesejahteraan hewan kepada masyarakat dan mendorong pemerintah untuk memperhatikan masalah kesejahteraan hewan dan membuat langkah-langkah konkrit yaitu dengan melaksanakan pendidikan. Berkaitan dengan hal itu, Yayasan Yudisthira Swarga berkeinginan untuk melaksanakan pendidikan kesejahteraan hewan kepada masyarakat luas melalui street theatre dan pameran photo mengenai kesejahteraan hewan ternak dengan tema ; ” Sejahterakan Hewan Untuk Kesejahteraan Manusia ”. Dan bersama-sama dengan masyarakat mendorong pemerintah untuk membuat undang-undang kesejahteraan hewan dan perlindungan hewan .

a. Maksud dan Tujuan :

  1. Membangun kesadaran masyarakat bahwa hewan ternak bukan hanya komoditas/barang dagangan tetapi adalah mahkluk hidup yang memiliki kepekaan terhadap rasa sakit dan penderitaan
  2. Menunjukkan kepada masyarakat bahwa system peternakan intensif yang yang hanya mengutamakan produktifitas dan pembatasan lahan telah membatasi kebutuhan hidup hewan yang paling mendasar.
  3. Menunjukkan kepada masyarakat bahwa penanganan hewan selama proses pengangkutan, penjualan hewan hidup di pasar sampai dengan proses pemotongan di RPH dilakukan dengan tidak memperhatikan kaidah kesejahteraan hewan.
  4. Membangun kesadaran masyarakat bahwa penanganan hewan secara tidak manusiawi (tidak memperhatikan kaidah kesejahteraan hewan) berdampak buruk terhadap kualitas daging atau produk ternak lainnya.
  5. Mohon kepada pemerintah untuk memperhatikan masalah kesejahteraan hewan dengan mewujudkan undang-undang perlindungan dan kesejahteraan hewan sebagai payung hukumnya.

Kegiatan yang berlangsung pada pertengahan bulan Oktober kemarin yang berlangsung di depan museum Bali ini, cukup menarik minat para pengunjung lapangan Puputan Badung untuk menyaksikan pameran foto dan juga menyaksikan video tentang animal welfare. Selain pameran foto, acara ini juga disertai dengan membagi-bagikan brosur tentang animal welfare dan pengumpulan tanda tangan. Setidaknya melalui acara ini masyarakat menjadi lebih sadar tentang perlunya memperhatikan kesejahteraan hewan.

Berikut beberapa foto selama kegiatan berlangsung:

lokasi pameran foto

pengumpulan tanda tangan

pemutaran video tentang animal welfare.

pengunjung yang menyaksikan pameran foto

pembagian brosur kepada pengendara yang lewat

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 7 so far )

Dan Perjuanganpun Dimulai

Posted on Juli 24, 2008. Filed under: Kita perlu tahu, proFauna, Sekitar kita | Tag:, , , , |

“Halo Dunia,“ mungkin itu yang akan di ucapkan oleh tukik-tukik berikut ini. Malam itu (23 Juli 2008), untuk pertama kalinya saya menyaksikan secara langsung sebuah awal perjuangan seekor tukik. Bagi Anda yang belum tahu, tukik adalah anak penyu yang baru menetas (ingat PENYU bukan kura-kura). Malam itu saya sengaja menunggu untuk menyaksikan 200 ekor tukik yang akan menetas setelah pelepasan sebanyak 96 ekor tukik di pantai Kuta bersama proFauna dan satgas Kuta pada sore harinya.

gambar tukik baru menetas

gambar tukik baru menetas

Ini merupakan rekor tersendiri bagi kami karena ini merupakan penetasan tukik yang terbanyak dibandingkan dengan yang sebelumnya. ProFauna bekerja sama dengan satgas Kuta bersama-sama melakukan pengamatan dan penyelamatan jika ada penyu yang bertelur di sekitar pantai Kuta dan kemudian memindahkan telur-telur tersebut ke tempat penetasan. Ini dimaksudkan agar telur-telur tersebut aman dari para predator dan tindakan tangan-tangan jail orang yang tidak bertanggung jawab.

Malam itu yang menunggu moment tersebut adalah kami dari proFauna (saya, Bli Wayan dan Dion), Gung Aji dari satgas Kuta dan beberapa wisatawan mancanegara dan domestik yang ingin menyaksikan kesempatan yang sangat langka bagi mereka. Ini adalah pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Saya jadi menyadari kebesaran Tuhan, dan indahnya menyaksikan awal dari sebuah kehidupan.

tukik baru menetas

tukik baru menetas

tukik baru netas

tukik baru netas

D

ini tukik bukan lukick 😀

Yang unik dari tukik yang baru menetas adalah mereka tidak bergerak atau keluar dari dalam timbunan pasir sebelum yang lain mulai bergerak keluar. Ini memerlukan kesabaran untuk menunggu dan menyaksikan mereka bergerak untuk pertama kalinya. Seorang remaja India yang dengan sangat antusias ingin menyaksikan kesempatan ini, dengan tidak sabar ia bertanya kepada saya. “Mengapa tidak kita gali saja pasirnya dan mengeluarkan mereka satu persatu?“

Mungkin ini cara terbaik yang dipikirkannya untuk membantu para tukik yang masih lemah ini. Tapi ternyata dengan membiarkan mereka keluar sendiri dari dalam pasir tanpa bantuan kita, dapat melatih otot-otot mereka yang masih lemah agar kuat dan mampu membentuk tubuh mereka sehingga sesuai untuk mengarungi lautan luas untuk mencari makan.

Detik-detik ketika seekor tukik mulai bergerak dengan perlahan dan berusaha untuk keluar dari timbunan pasir merupakan saat-saat yang menegangkan bagi saya, saya tidak ingin melewati kesempatan ini walau seperjuta detik sekalipun. Seekor tukik mulai mendorong tubuhnya keluar, setelah keluar dari dalam pasir lalu dengan perlahan ia mulai menggerakkan siripnya seperti ketika kita melakukan warming up sebelum berolah raga atau klo dalam bahasa gaulnya melakukan pelemasan otot. 😀 Lalu ia mulai bergerak sidikit demi sedikit hingga akhirnya mulai menjelajah ke seluruh bak pasir tempat penetasan.

para wisatawan sedang melepas tukik

para wisatawan sedang melepas tukik

Dan kemarin (23 Juli 2008) pada pukul 17.30 WITA para tukik ini mulai memasuki alam liar ketika kami bersama-sama dengan para wisatawan baik domestik maupun manca negara melepaskan mereka ke laut lepas. Para wisatawan yang mengunjungi pantai Kuta sangat antusia mengikuti acara ini. Untungnya hari itu ada sedikit wisatawan domestik yang menikmati suasana sunset di pantai Kuta sehingga acara kali ini berjalan lebih tertib. Karena biasanya wisatawan domestik lebih sulit untuk diatur dibandingkan dengan para bule 😀

Mungkin dari sekian banyak tukik yang sudah kami lepaskan di pantai Kuta hanya beberapa ekor saja yang mampu bertahan hidup dan menjadi dewasa. Para peneliti menyebutkan dari seribu ekor tukik hanya satu yang mampu bertahan hidup. Tukik yang kami lepas hari ini jika mampu bertahan hidup, dalam 25-30 tahun lagi akan kembali ke Kuta untuk bertelur.

Dan ketika mereka memasuki laut lepas, dan pada saat itu juga perjuanganpun dimulai

NB: artikel ini saya ikut sertakan dalam Write for Kontes Blogging HUT RI ke 63 by Rystiono yang saya daftarkan dalam kategori lingkungan.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 8 so far )

Sapi Bali sebagai Plasma Nutfah Indonesia dan Peranannya Bagi Petani

Posted on Juli 22, 2008. Filed under: Kita perlu tahu, Peternakan, Sekitar kita | Tag: |

Sapi Bali merupakan sapi potong asli Indonesia yang merupakan hasil domestikasi dari banteng (Bibos banteng) adalah jenis sapi yang unik, hingga saat ini masih hidup liar di Taman Nasional Bali Barat, Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Ujung Kulon. Sapi asli Indonesia ini sudah lama didomestikasi suku bangsa Bali di pulau Bali dan sekarang sudah tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

gambar sapi bali

gambar sapi bali

Kekhasan Fisik Sapi Bali

Sapi Bali berukuran sedang, dadanya dalam, tidak berpunuk dan kaki-kakinya ramping. Kulitnya berwarna merah bata. Cermin hidung, kuku dan bulu ujung ekornya berwarna hitam. Kaki di bawah persendian karpal dan tarsal berwarna putih. Kulit berwarna putih juga ditemukan pada bagian pantatnya dan pada paha bagian dalam kulit berwarna putih tersebut berbentuk oval (white mirror). Pada punggungnya selalu ditemukan bulu hitam membentuk garis (garis belut) memanjang dari gumba hingga pangkal ekor.

Sapi Bali jantan berwarna lebih gelap bila dibandingkan dengan sapi Bali betina. Warna bulu sapi Bali jantan biasanya berubah dari merah bata menjadi coklat tua atau hitam legam setelah sapi itu mencapai dewasa kelamin. Warna hitam dapat berubah menjadi coklat tua atau merah bata apabila sapi itu dikebiri.

Sapi Bali dalam Kehidupan Petani Bali

Sapi Bali merupakan hewan ternak yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat petani di Bali.

  • Sapi Bali sebagai tenaga kerja pertanian

Sapi Bali sudah dipelihara secara turun menurun oleh masyarakat petani Bali sejak zaman dahulu. Petani memeliharanya untuk membajak sawah dan tegalan, untuk menghasilkan pupuk kandang yang berguna untuk mengembalikan kesuburan tanah pertanian.

  • Sapi Bali sebagai sumber pendapatan

Sapi Bali mempunyai sifat subur, cepat beranak, mudah beradaptasi dengan lingkungannya, dapat hidup di lahan kritis, dan mempunyai daya cerna yang baik terhadap pakan. Keunggulan lain yang sudah dikenal masyarakat adalah persentase karkas yang tinggi, juga mempunyai harga yang stabil dan bahkan setiap tahunnya cenderung meningkat membuat sapi Bali menjadi sumber pendapatan yang diandalkan oleh petani.

  • Sapi Bali sebagai sarana upacara keagamaan

Dalam agama Hindu, sapi dipakai dalam upacara butha yadnya sebagai caru, yaitu hewan korban yang mengandung makna pembersihan. Demikian juga umat Muslim juga membutuhkan sapi untuk hewan Qurban pada hari raya Idhul Adha.

  • Sapi bali sebagai hiburan dan obyek pariwisata

Sapi Bali juga dapat dipakai dalam sebuah atraksi yang unik dan menarik. Atraksi tersebut bahkan mampu menarik minat wisatawan manca negara untuk menonton. Atraksi tersebut adalah megembeng ( di kabupaten Jembrana) dan gerumbungan (di kabupaten Buleleng).

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 17 so far )

Rintis Konsep “One Health” untuk Melawan Penyakit Zoonosis

Posted on Mei 15, 2008. Filed under: Kita perlu tahu, Sekitar kita |

Berikut ini adalah tulisan yang saya dapat dari milis dokter hewan. Sebenarnya tulisan ini sudah ada di inbox saya sejak lama, cuma saya baru baca sekarang 🙂 Mudah-mudahan informasi berikut ini berguna untuk Anda.

Selamat membaca…. (lebih…)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 5 so far )

Mega Biodiversity yang Terancam

Posted on Mei 2, 2008. Filed under: Kita perlu tahu, Sekitar kita |

Diperkirakan sebanyak 300.000 jenis satwa atau sekitar 17% satwa di dunia ada di Indonesia, walaupun luas Indonesia hanya 1,3% dari luas daratan dunia. Dapat dibayangkan betapa kayanya negara kita. Kekayaan ini dimungkinkan karena letak kepulauan Indonesia yang berada di antara dua wilayah biogeografis utama dunia yaitu benua Asia dan benua Australia. Karena kekayaan akan satwa dan tumbuhannya itu maka Indonesia dikenal sebagai negara (mega biodiversity), yaitu negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. negara-negara lain yang dikenal sebagai negara mega biodiversity adalah Brazil dan Zaire.

Kekayaan jenis satwa Indonesia :

Pertama di dunia dalam kekayaan mamalia (binatang menyusui) yaitu sekitar 515 jenis, 36%nya adalah satwa yang hanya dapat ditemukan di Indonesia atau istilah kerennya disebut dengan endemik. Dari golongan primata atau bangsa kera terdapat 36 jenis, 18% diantaranya adalah endemik Indonesia

Keempat di dunia dalam jumlah burung, yaitu 1539 jenis. Dari keluarga burung nuri dan kakatua yang berjumlah 78 jenis, 44% diantaranya adalah endemik Indonesia

Ketiga di dunia dalam jumlah reptil, yaitu sekitar 600 jebis atau 16% dari reptil yang ada di dunia.

45% ikan di dunia ada di Indonesia.

15% serangga di dunia ada di Indonesia.

Satwa Indonesia Terancam Punah

Walaupun Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan satwa liar, namun juga dikenal sebagai negara yang memiliki daftar panjang tentang satwa yang terancam punah. Suatu jenis satwa dikatakan terancam punah jika mereka dalam waktu yang tidak lama lagi akan segera punah kalau tidak ada tindakan untuk menyelamatkannya. Setiap dua tahun sekali badan konservasi dunia atau IUCN (International Union for Conservation of nature and nutural Resources), menerbitkan buku data merah yang berisikan tentang daftar spesies yang terancam punah di seluruh dunia. Menurut IUCN (2003), jumlah jenis satwa Indonesia yang terancam punah adalah 147 jenis mamalia, 114 jenis burung, 28 jenis reptil, 91 jenis ikan, dan 28 jenis invertebrata (hewan tak bertulang belakang.)

Maukah kita bila suatu saat nanti anak cucu kita hanya mendengar istilah Indonesia sebagai salah satu negara “mega biodiversity” hanya sebagai dongeng pengantar tidur saja?

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 10 so far )

ProFauna’s School Visit

Posted on April 7, 2008. Filed under: Kita perlu tahu, proFauna, Sekitar kita |

Hari ini adalah pertama kalinya saya ikut kegiatan ProFauna sejak terdaftar menjadi anggota beberapa hari yang lalu. ProFauna adalah sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidah perlindungan dan pelestarian satwa liar.

ProFauna memiliki berbagai program dalam hubungannya dengan pelestarian dan perlindungan satwa liar, yang salah satunya adalah school visit. Dari yang saya tangkap, school visit adalah kunjungan ke sekolah-sekolah yang bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat yang khususnya anak-anak sekolahan akan pentingnya melestarikan satwa liar sebagai salah satu plasma nutfah Indonesia yang semakin terancam keberadaannya. (lebih…)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 5 so far )

Ayampun Ikut Sunatan Massal

Posted on April 1, 2008. Filed under: Kita perlu tahu, Peternakan |

Mengulik dunia per-ayam-an memang mengasikan, apalagi mengulik tentang kehidupan ayam kampus dan ayam abu-abu :mrgreen: ada banyak hal yang sering kali dianggap aneh oleh bagi orang awam. Bila mendengar ayam disunat sudah pasti banyak orang yang akan mengernyitkan kening dan berkomentar, ”Lho kok?” atau ”Ah, masa sih?!?” ataupun ”Emang apanya yang disunat? Yang biasa disunat khan burung?”

Kalau pada manusia, yang disunat adalah ujung alat kelamin pria. Kalau pada ayam apakah sama juga? (lebih…)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 3 so far )

Sphinx – si Manis Tanpa Busana

Posted on Maret 8, 2008. Filed under: Kita perlu tahu, Pet |

Apa sih yang membuat Anda tertarik dengan si manis? Apakah karena wajahnya yang lucu dan imut? Apakah karena sidatnya yang manja dan suka menggoda? Atau karena tubuhnya yang selalu dibalut busana warna-warni?

Tak sedikit juga yang tertarik dengan si manis karena tubuh moleknya yang munggil tanpa ditutupi oleh sehelai busanapun alias bugil, mulus tanpa bulu.

Beberapa orang dengan pertimbangan tidak menimbulkan alergi yang disebabkan oleh bulu, lebih memilih sphinx si manis yang bugil daripada si manis dengan busana warna-warni yang menawan.

Bugil???? Alergi???? Apa hubungannya coba?

Emangnya kita ngomongin apaan sih?

Lha emang lo pikir kita ngomongin apaan? Kita khan lagi ngomongin si manis (kucing). Si manis yang satu ini berasal dari jenis sphinx. Secara anatomi, sphinx tidak beda jauh dengan kucing biasa namun badannya tidak ditutupi busana atau bulu warna-warni alias bugil. Walaupun tidak sepenuhnya telanjang tanpa bulu.

sphinx-cat.jpg

Kucing ini disebut dengan kucing sphinx karena wajahnya yang mirip dengan patung sphinx yang ada di Mesir, padahal si manis ini berasal dari Kanada lho.

Pemeliharaan kucing ini tidak berbeda dengan kucing biasa, hanya saja si manis jangan diberi ikan pindang atau ikan asin karena bisa menyebabkan diare. Lebih baik diberikan pakan jadi yang sudah tersedia di pet shop.

Karena telanjang alias tanpa bulu, kucing ini cukup rentan terhadap cuaca baik panas maupun dingin. Berat badan kucing sphinx dewasa bisa mencapai 4-5 kg. Ciri lainnya adalah telinganya yang menghadap ke depan dan kulitnya keriput. Semakin banyak keriput di wajah dan kulitnya, semakin mahal harga kucing ini.

Jadi Anda lebih suka yang mana? Si manis dengan busana warna-warni atau si manis tanpa busana alias bugil?

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 96 so far )

Kelelawar yang Mirip dengan Serangga

Posted on Maret 4, 2008. Filed under: Kita perlu tahu, Sekitar kita |

Dari segi ukuran, kelelawar mungkin terbang seperti
seekor burung. Namun, caranya melayang di udara dalam waktu lama
ternyata lebih mirip serangga.

Hewan malam yang lihai terbang di kegelapan itu memanfaatkan
mekanisme arodinamika yang sama seperti serangga. Seperti dilaporkan
dalam jurnal Science edisi terbaru, kekelawar mengandalkan pusaran
udara horisontal yang disebut LEV (leading edge vortex) untuk
menjaga tubuhnya tetap mengambang.

Tim peneliti gabungan dari Swedia dan AS mengungkap rahasia terbang
melayang kelelawar setelah mempelajari dalam lorong angin. Para
peneliti menaruh umpan di dalam ruangan dan melepaskan kelelawar.
Kemudian, mereka merekam cara terbang kelelawar saat mendekati umpan
menggunakan asap, laser, dan kamera yang dapat merekam gerakan
sangat cepat.

Dari gerakan partikel-partikel asap, disimpulkan bahwa gaya dorong
yang dihasilkan LEV menyumbangkan 40 persen gaya yang dibutuhkan
untuk melayang. LEV terbentuk saat kelelawar mengepakkan sayapnya ke
bawah. Hal tersebut menghasilkan gaya dorong ke atas yang cukup kuat
sehingga kelelawar tidak jatuh saat melakukan gerakan lambat atau
melayang, misalnya untuk mendekati mangsa.

Trik tersebut telah lama terbukti dilakukan serangga dan belum
banyak terkuak peranannya untuk hewan bersayap yang lebih besar.
Pada burung, LEV juga diketahui berperan penting, khususnya saat
melakukan pendaratan sehingga nyaris tak pernah gagal. Pada
kelelawar, teknik tersebut baru kali ini terbukti.

Kelelawar dapat mengendalikan posisi melayangnya menggunakan jari-
jari yang menempel di membran kulit sayapnya. Gerakan jari akan
mengubah sudut sayapnya, seperti fungsi flap (sirip) pada sayap
pesawat terbang. Serangga tidak mungkin mengendalikan posisi
melayang dengan trik yang sama seperti ini karena sayapnya kaku.
Namun, serangga tetap dapat melakukannya dengan menggerakan sayap
sangat cepat.

“Ini merupakan suatu informasi yang penting untuk mengetahui
bagaimana menghasilkan sistem kendali berdasarkan bentuk sayap,”
kata ketua tim peneliti, Anders Hadenstrom daru Universitas Lund,
Swedia. Temuan tersebut mungkin dapat dimanfaatkan untuk
meningkatkan kemampuan sayap pesawat terbang, misalnya pesawat-
pesawat kecil untuk pemetaan.(BBC/ WAH)

sumber:

Dokter_Hewan@yahoogroups.com

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 9 so far )

« Entri Sebelumnya

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...