Sekitar kita

Global Warming dan Limbah Ternak

Posted on Januari 20, 2009. Filed under: Kita perlu tahu, Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3, Peternakan, Sekitar kita | Tag:, , , , , |

Global warming atau pemanasan global sudah menjadi isu hangat yang terus dibicarakan beberapa tahun belakangan ini. Mulai dari obrolan di warung kopi hingga ke forum diskusi internasionalpun isu ini sering dibahas.
Pada kesempatan ini saya tidak akan membahas tentang apa itu global warming, penyebab global warming, serta cara mengurangi dampak pemanasan global ini. Yang ingin saya singgung sedikit adalah tentang pengolahan limbah peternakan.
Klo udah ngomongin peternakan, sudah tentu yang terbayang adalah daging yang sering kita konsumsi tiap harinya. Tak dapat dipungkiri klo daging sudah menjadi menu wajib sebagian besar masyarakat Indonesia di saat waktu makan tiba (tentu saja kecuali bagi anda yang vegetarian).
Nah, tentu sudah bisa dibayangkan seberapa banyak daging yang harus tersedia tiap harinya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi protein asal hewan oleh masyarakat Indonesia. Tak mengherankan jika perkembangan dunia peternakan di Indonesia begitu pesat, dan peluang usaha di dunia peternakanpun masih terbuka lebar.
Selain menghasilkan protein hewani, ternyata tanpa kita sadari industri peternakan (entah itu peternakan yang hanya sebatas pekerjaan sampingan ataupun juga peternakan besar) juga menghasilkan limbah tiap harinya. Entah itu berupa kotoran ternak, air kencing, maupun yang lainnya. Dan ternyata “sumbangan“ kotoran ternak terhadap pemanasan global sangat tinggi.
Dari hasil iseng-iseng search di google tentang limbah ternak, ternyata ada banyak banget artikel yang membahas keterkaitan antara pengolahan limbah peternakan dengan pemanasan global (untuk lebih jelasnya mungkin anda bisa search langsung di google) :D. Ternyata selain sebagai sumber polusi dan pemicu efek rumah kaca, kotoran ternak juga sudah umum diketahui sebagai sumber energi alternatif yaitu biogas.
Tentunya ini menjadi peluang tersendiri bagi peternak dengan memanfaatkan kotoran ternaknya sebagai penghasil biogas. Para peternak besar mungkin sudah memiliki sistem pengolahan limbah ternak untuk dimenghasilkan biogas. Sayangnya hal ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh peternak kecil yang mungkin memelihara 1-2 ekor sapi di sela-sela kesibukannya bertani. Kotoran ternak belum mendapat perhatian yang khusus bagi mereka. Ada yang membuang langsung kotoran ternaknya ke sungai dan ada juga sebagian kecil yang mengolahnya menjadi kompos. Tanpa mereka sadari selain menimbulkan pencemaran lingkungan dengan membuang kotoran ternak langsung ke sungai juga dapat memicu pemanasan global.
Nah, hal ini mungkin menjadi PR bagi kita semua dalam mensosialisasikan cara-cara pengolahan limbah peternakan yang ramah lingkungan (misalnya tentang pembuatan biogas) khususnya pada peternak kecil. Disamping kita membantu mengurangi pencemaran lingkungan, juga secara tidak langsung membantu peningkatan status ekonomi peternak kecil karena mereka mampu menghasilkan produk sampingan dari hasil sampingan mereka beternak (ngertikan maksud saya) berupa biogas dan kompos.

NB: artikel ini saya buat dalam rangka ikut berpartisipasi dalam Kompetisi Website Kompas MuDA-IM3.

Iklan
Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 14 so far )

Menjadi Sahabat Bumi Bersama Kompetisi Website Kompas MuDA – IM3

Posted on Januari 12, 2009. Filed under: Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3, kontes, Sekitar kita | Tag:, |

kompetisi-website-kompas-muda-im32Kompetisi Website Kompas MuDA – IM3 apaan sih? Trus apa juga hubungannya dengan menjadi sahabat bumi? Eits, sabar dunk…begini nie ceritanya… Kompetisi Website Kompas MuDA – IM3 adalah sebuah kompetisi web atau blog yang diadakan oleh www.mudaers.com dengan tema ”Jadilah Sahabat Bumi”.
menurut saya, ini merupakan ajang yang sangat tepat bagi kita selaku remaja untuk menunjukkan eksistensi kita. Selain dalam bentuk tulisan juga dalam bentuk tindakan nyata kita sebagai wujud kepedulian kita terhadap lingkungan. Hmmm….menjadi sahabat bumi itu gimana sih?
Menurut saya, menjadi sahabat bumi itu tidaklah sulit. Bumi tempat tinggal kita ini sama dengan lingkungan yang selalu menemani kita dari semenjak kita lahir sampai sekarang, sudah sepantasnya kita jadikan sahabat. Bumi ini tidak boleh kita ”kuasai” sendiri, kita sering lupa bahwa selain kita masih ada tanaman dan hewan yang juga menggantungkan hidupnya pada bumi.
Kehidupan manusia, satwa, tumbuhan dan lingkungan (bumi) tidak bisa lepas begitu saja. Semuanya saling terkait satu sama lain. Manusia menyandarkan kehidupannya pada alam, manusia mengambil dan mengolah hasil alam untuk mempertahankan dan meningkatkan derajat hidupnya, tetapi sudahkan manusia memberikan kotribusi balik kepada alam?
Ternyata, tindakan eksploitasi alam dan lingkungan oleh manusia tidak diimbangi dengan upaya pelestarian alam. Dan dampaknya satwa yang juga menggantungkan hidupnya pada alam juga merasakan akibatnya. Ketika hutan dibabat dijadikan perkebunan atau pemukiman penduduk maka satwapun akan kehilangan rumah tempat tinggalnya dan juga sumber makanannya.
Ketika hutan telah gundul, satwa-satwa menjerit dan alampun mulai menunjukkan kuasanya. Dan ketika alam mulai murka tidak hanya satwa, manusiapun terkena dampaknya. Banjir dan tanah longsorpun menghantui disaat musim hujan seperti sekarang ini. Dan ketika musim panas tiba maka sungai-sungaipun surut karena tidak ada lagi hutan sebagai penampung air.
Sebelum alam terlanjur murka, mari kita melakukan sesuatu untuk alam sebagai timbal balik terhadap semua yang sudah kita peroleh dari alam. Misalnya, dengan melakukan penanaman pohon ataupun reboisasi hutan yang sudah gundul tentu akan memberikan banyak manfaat bagi generasi mendatang.
Selain itu, hal sehari yang paling sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya juga dapat menyelamatkan lingkungan dari kerusakan dan satwa dari kepunahan. Sebagai contohnya saja jika kita membuang sampah plastik sembarangan, sampah plastik akan menyebabkan polusi tanah karena tidak dapat diurai oleh mikroorganisme, jika hanyut ke sungai dan mengumpul maka dapat menyebabkan banjir, jika sampah plastik sampai ke laut dan sampai termakan oleh penyu maka dapat menyumbat saluran pencernaan penyu yang dapat menyebabkan kematian.
Selama ini ga kebayang khan jika sebuah sampah plastik bisa menimbulkan kerugian yang begitu besar. Menjadi sahabat bumi tidaklah sulit, hal sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan dan merawat pohon juga udah menunjukkan kepedulian kita pada lingkungan. Dan hal-hal sederhana ini sudah selayaknya kita  pupuk sedini mungkin.
Jadi siapa bilang jadi sahabat bumi itu susah? Yuk jadi sahabat bumi sambil ikutan Kompetisi Website Kompas MuDA-IM3

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 10 so far )

Wong Alas

Posted on November 22, 2008. Filed under: Sekitar kita |

Dua pasang mata menatap heran ketika saya turun dari motor trail dan menyapa mereka. Mereka melongo, tak segera menyahut sapaan saya seperti kebanyakan orang desa yang segera menjawab ketika disapa. Entah apa yang membuat mereka tidak segera menyahut. Mungkin mereka heran bagaimana saya dengan motor jangkung itu bisa sampai di puncak bukit yang biasanya hanya bisa dicapai dengan jalan kaki. Yang jelas, saya akan lempar handuk jika diharuskan jalan kaki mendaki bukit terjal tersebut. Atau mereka heran melihat ban motor saya yang sebesar irisan tahu.
Sesata setelah diselimuti rasa heran, kedua petani itu segera mengembangkan senyum menunjukkan giginya yang kuning. Dengan ramahnya mereka menyapa saya. Saking ramahnya, mereka menghentikan pekerjaannya mencangkul dan ikutan nggelesot, duduk di tanah bersama saya. Obrolan bak seorang sahabat yang lama tak jumpapun mengalir menghangatkan bukit di lereng gunung Arjuna yang lumayan dingin itu.
Kedua petani itu bertahun-tahun, sejak jaman kakek buyut, sudah menjadi petani. Atau lebih tepatnya disebut peladang karena mereka hanya menggarap lahan pertanian tersebut dengan mengandalkan curahan hujan dari langit. Tidak ada irigasi dan sungai yang bisa mengairi ladang mereka. Praktis dalam setahun mereka hanya bertanan sekali. Biasanya sayur mayur seperti kubis, sawi, cabe, tomat atau jagung.
Tanah yang mereka garap bukan tanah mereka sendiri, melainkan menyewa dari Perhutani. Luasnya berhektar-hektar, asal kuat menyangkul, mereka bisa menanam di sela-sela pohon produksi milik Perhutani seluas-luasnya.
Mereka spesialis peladang di tepi hutan. Menjadi peladang di tepi hutan tidaklah semudah peladang biasa di lahan “normal“. Tantangannya lebih berat. Bukan saja medannya yang bikin ngos-ngosan atau tempatnya yang terpencil, tetapi juga harus siap “berinteraksi“ dengan penghuni asli hutan. Cerita peladang bertemu gerombolan monyet, lutung, atau babi hutan adalah cerita biasa. Belum lagi jika harus terpaksa kepergok sang predator di hutan Jawa, macan tutul, sudah menjadi resiko yang harus diambil.
Banyak cerita dan juga berita di koran tentang ganasnya monyet dan lutung yang menyerbu ladang. Atau berita tentang petani yang diterkam harimau, atau sebaliknya berita tentang ganasnya manusia yang menerjang harimau dengan pelor panas dengan seribu alasan. Saya bertanya kepada kedua petani itu, apakah mereka punay masalah dengan binatang selama mereka berladang di tepi hutan.
“O alah mas, namanya juga bekerja di hutan, jadi wong alas  (orang hutan), ya mesti sering ketemu dengan kewan (binatang),“ jawab petani yang lebih tua sambil menghisap dalam-dalam rokok tanpa merk. Yang bikin saya kaget adalah bukan jawaban itu tetapi cerita mereka bahwa sepanjang “karir“ mereka sebagai peladang, mereka tidak pernah mau membunuh binatang liar. Mereka takut kualat jika membunuh binatang seperti monyet ataupun babi hutan.
Jika ada monyet yang mengambil sayur atau jika ada lutung yang memakan sebagian jagung mereka, bagi mereka itu adalah memang jatah buat minyet dan lutung tersebut. Toh mereka (petani) sudah mengambil jatah hutan yang seharusnya menjadi tempat bagi monyet dan lutung. “Yang di atas (Tuhan) sudah mengaturnya mas, enggak mungkin monyet itu akan menghabiskan semua sayur kami“, tambah petani yang lebih muda.
Hebat benar pemikiran petani itu. Mereka telah berbicara tentang kearifan lingkungan. Mereka telah mempraktekan ilmu animal welfare, meskipun mereka tidak pernah mendapatkan pelatihan tentang itu. Mereka memahaminya dengan kearifan mereka, mereka ikhlas berbagi ruang dan waktu dengan satwa. Mereka tulus “bersedekah“ kepada satwa. Sebuah ketulusan dan keikhlasan yang sudah jarang ditemukan di perkotaan yang mengaku lebih beradab dibandingkan dengan wong alas.
Sering kali kita menjadi peduli kepada binatang atau satwa karena kita bekerja pada organisasi satwa atau organisasi lingkungan. Kemana-mana memakai kaos yang bertuliskan jargon-jargon untuk melindungi satwa. Kata-kata Save the Wildlife menjadi kalimat yang umum didengungkan dan menempel di poster, sticker atau kaos oblong yang dipakai para “aktivis“. Namun sudahkah ras cinta terhadap satwa itu menempel di hati kita yang paling dalam? Bukan sekedar menempel di atas kaos?
Hari itu saya mendapat ilmu yang berharga dari petani yang mengaku wong alas tentang arti berbagi dan bersedekah kepada satwa. Sayapun malu akan kejumawanan saya yang merasa telah banyak bersedekah terhadap satwa. “Sedekah“ saya tidak ada artinya dibanding kedua petani itu. Hari itu saya bahagia karena dicerahkan dalam sebuah “diskusi“ dengan wong alas di lereng gunung Arjuna. Itu sebuah “diskusi“ yang luar biasa, jauh lebih bermakna dibandingkan dengan diskusi-diskusi dan ratusan workshop yang telah saya ikuti di hotel-hotel mewah.

Nb: artikel di atas saya kutip dari majalah Suara Satwa Media Informasi Profauna Indonesia volume XII No.2/April-Juni 2008, yang ditulis oleh Rosek Rursahid/Chairman Profauna Indonesia.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 3 so far )

Karena Mereka Tak Bisa Bicara Mari Kita Bicara Untuk Mereka

Posted on September 12, 2008. Filed under: Sekitar kita, wild life |

Pernahkah anda melihat penyu menangis? Atau mungkin anda pernah mendengar air mata penyu? Jika anda beruntung menyaksikan penyu yang sedang bertelur atau melihat penyu di darat, cobalah perhatikan matanya untuk sesaat. Akan tampak tetesan air yang mengalir dari mata penyu. Ya, ternyata penyu juga bisa menangis.

Sebenarnya, cairan yang keluar dari mata penyu tersebut tidak sama dengan cairan yang keluar dari mata kita ketika kita menangis. Ini adalah salah satu cara yang dilakukan oleh penyu untuk mengatur keseimbangan kadar garam di dalam tubuhnya. Hal ini dikarenakan oleh penyu hidup di laut dan banyak minum air laut yang kadar garamnya tinggi, jadi untuk menjaga keseimbangan kadar garamnya penyu mengeluarkan air mata.

Secara tidak langsung hal ini mengisyaratkan pada kita bahwa mereka sedang membutuhkan pertolongan kita. Penyu merupakan hewan yang sudah berada di bumi ini semenjak zaman dinosaurus dan mampu bertahan hidup hingga sekarang. Dan saat ini kelangsungan hidup penyu secara pasti tengah menuju ke arah kepunahan jika kita tidak segera melakukan sesuatu untuk menyelamatkan mereka.

Populasi penyu di dunia semakin berkurang dalam beberapa tahun terakhir, baik karena faktor alam maupun karena ulah manusia. Perburuan penyu baik untuk diambil telur, daging ataupun kerapasnya untuk diperjualbelikan semakin mempercepat mengantar mereka menuju gerbang kepunahan. Mengingat pertumbuhan dan perkembangan penyu yang sangat lambat, membutuhkan waktu paling tidak 20 tahun untuk seekor penyu menjadi dewasa dan siap untuk bereproduksi. Dengan banyaknya tantangan yang dihadapi di alam dari semenjak mereka menetas hingga tumbuh menjadi dewasa, para ahli menyebutkan bahwa dari 1000 ekor tukik yang menetas hanya 1 yang mampu bertahan hidup hingga menjadi dewasa.

Indonesia sebagai negara maritim dengan memiliki perairan yang sangat luas ternyata memiliki kekayaan yang belum disadari oleh banyak orang. Dari 7 spesies penyu yang ada di dunia, 6 diantaranya dapat ditemukan di perairan Indonesia. Keenam spesies tersebut adalah penyu hijau (Chelonia mydas), penyu tempayan (Caretta caretta), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu pipih (Natator depressus), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Keberadaan penyu di suatu perairan menandakan bahwa daerah tersebut masih terjaga kekayaan ekosistemnya. Karena penyu memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem tempat hidupnya.

Mengingat pentingnya peranan penyu bagi keseimbangan ekosistem tempat hidupnya, serta jumlah penyu yang semakin sedikit maka sudah menjadi kewajiban kita untuk menyelamatkan mereka dari kepunahan. Sebagai remaja, banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menyelamatkan penyu dari kepunahan, diantaranya adalah dengan tidak membeli dan mengkonsumsi telur dan daging penyu, tidak membeli produk-produk yang terbuat dari bagian tubuh penyu, tidak menganggu penyu yang sedang bertelur, tidak membuang sampah plastic sembarangan (khusunya di pantai dan laut), tidak melakukan pembangunan besar di sekitar pantai peneluran penyu, mendukung usaha-usaha konservasi, dan segera melapor jika menemukan penyu yang terdampar, terluka atau mati kepada pihak berwajib.

Kesadaran akan pentingnya usaha penyelamatan dan perlindungan penyu wajib kita sebarkan dan tularkan kepada orang-orang di sekitar kita. Semakin banyak orang yang sadar akan pentingnya penyelamatan penyu, maka akan semakin besar pula peluang penyu untuk bertahan hidup. Karena mereka tak bisa bicara, mari kita bicara dan berbuat untuk mereka.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 13 so far )

From Kuta Beach Let’s Save the Sea Turtles

Posted on Agustus 24, 2008. Filed under: Aquatic, Curhat, proFauna, Sekitar kita |

Beberapa hari yang lalu (21-08-08) proFauna perwakilan Bali dan beberapa anggota proFauna dari Malang menggelar aksi dan pameran tentang penyu di depan kantor satgas pantai Kuta. Aksi damai ini dengan cara menggelar spanduk yang bertuliskan FREEDOM FOR SEA TURTLES di pantai Kuta dan membagi-bagikan brosur dan stiker tentang penyelamatan penyu.

Jujur aja ini baru pertama kalinya saya ikut aksi proFauna, sebelumnya saya pikir kali ini hanya pameran biasa dan pelepasan tukik aja seperti biasanya. Ternyata capek juga berdiri selama 2 jam sambil megangin spanduk dengan angin yang berhembus cukup kencang dan punggung lumayan panas terbakar matahari. Setelah sekian lama ga pernah berdiri lama sambil berjemur ternyata capek juga ya. Terakhir kali saya berdiri sambil dijemur waktu masa orientasi dulu ato SMA ya? Sudah lupa maklum bandel jadi sering dihukum 😀

Oya berikut ini screenshot stand pamerannya

Tujuan dari acara ini adalah untuk menggugah kesadaran masyarakat untuk turut serta ambil bagian dalam penyelamatan dan perlindungan satwa liar khususnya penyu di pantai Kuta. Karena pantai Kuta selain sebagai daerah tujuan wisata juga sebagai daerah tujuan peneluran penyu. Sejak tahun 2002-2007 terdapat ratusan penyu yang ditemukan bertelur di sekitar pantai Kuta. Dalam rentang waktu tersebut terdapt lebih dari 8000 butir telur penyu yang ditemukan di sekitar pantai Kuta dan 6.000 diantaranya sudah berhasil menetas dan dilepaskan ke laut. Oya sekedar informasi, siapa tau diantara Anda ada yang berkunjung ke pantai Kuta pada bulan Maret- September dapat menyaksikan penyu bertelur atau ikut serta dalam acara pelepasan tukik antara bulan Mei- Oktober.

Oya waktu itu saya ketemu lagi dengan orang Medan yang waktu ini ikut serta dalam menyaksikan detik-detik menegangkan ketika penyu menetas. (maaf saya belum sempat kenalan) tampak bapak tersebut sangat antusias ikut serta dalam acara kali ini. Selain bapak itu tampak wisatawan baik domestic maupun manca negara sangat antusias dalam acara pelepasan tukik sebagai acara penutup pada kegiatan hari itu. Para bule juga berebut ingin foto dengan 3 ekor “penyu” raksasa.

Berikut ini beberapa foto lagi selama acara berlangsung

Tampak para penyu sedang membagi-bagikan brosur dan stiker

Kegiatan ini hanyalah kegiatan kecil yang tidak ada artinya tanpa dukungan dan peran serta dari seluruh masyarakat dalam penyelamatan penyu. Tapi dari kegiatan kecil ini kami berharap dapat menyelamatkan keberadaan penyu yang semakin langka.

Support Us to Save the Sea Turtle because They Won’t Survive Without Our Help

NB: untuk informasi lebih jauh ataupun jika kebetulan anda menemukan penyu bertelur di sekitar pantai Kuta silahkan hubungi Satgas Pantai Kuta (+62 361 762 871) atau bias juga menghubung PROFAUNA BALI OFFICE di PO BOX 3435 Denpasar Bali Indonesia 80034 hotline-nya +62 361 80 858 00

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 6 so far )

Dan Perjuanganpun Dimulai

Posted on Juli 24, 2008. Filed under: Kita perlu tahu, proFauna, Sekitar kita | Tag:, , , , |

“Halo Dunia,“ mungkin itu yang akan di ucapkan oleh tukik-tukik berikut ini. Malam itu (23 Juli 2008), untuk pertama kalinya saya menyaksikan secara langsung sebuah awal perjuangan seekor tukik. Bagi Anda yang belum tahu, tukik adalah anak penyu yang baru menetas (ingat PENYU bukan kura-kura). Malam itu saya sengaja menunggu untuk menyaksikan 200 ekor tukik yang akan menetas setelah pelepasan sebanyak 96 ekor tukik di pantai Kuta bersama proFauna dan satgas Kuta pada sore harinya.

gambar tukik baru menetas

gambar tukik baru menetas

Ini merupakan rekor tersendiri bagi kami karena ini merupakan penetasan tukik yang terbanyak dibandingkan dengan yang sebelumnya. ProFauna bekerja sama dengan satgas Kuta bersama-sama melakukan pengamatan dan penyelamatan jika ada penyu yang bertelur di sekitar pantai Kuta dan kemudian memindahkan telur-telur tersebut ke tempat penetasan. Ini dimaksudkan agar telur-telur tersebut aman dari para predator dan tindakan tangan-tangan jail orang yang tidak bertanggung jawab.

Malam itu yang menunggu moment tersebut adalah kami dari proFauna (saya, Bli Wayan dan Dion), Gung Aji dari satgas Kuta dan beberapa wisatawan mancanegara dan domestik yang ingin menyaksikan kesempatan yang sangat langka bagi mereka. Ini adalah pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Saya jadi menyadari kebesaran Tuhan, dan indahnya menyaksikan awal dari sebuah kehidupan.

tukik baru menetas

tukik baru menetas

tukik baru netas

tukik baru netas

D

ini tukik bukan lukick 😀

Yang unik dari tukik yang baru menetas adalah mereka tidak bergerak atau keluar dari dalam timbunan pasir sebelum yang lain mulai bergerak keluar. Ini memerlukan kesabaran untuk menunggu dan menyaksikan mereka bergerak untuk pertama kalinya. Seorang remaja India yang dengan sangat antusias ingin menyaksikan kesempatan ini, dengan tidak sabar ia bertanya kepada saya. “Mengapa tidak kita gali saja pasirnya dan mengeluarkan mereka satu persatu?“

Mungkin ini cara terbaik yang dipikirkannya untuk membantu para tukik yang masih lemah ini. Tapi ternyata dengan membiarkan mereka keluar sendiri dari dalam pasir tanpa bantuan kita, dapat melatih otot-otot mereka yang masih lemah agar kuat dan mampu membentuk tubuh mereka sehingga sesuai untuk mengarungi lautan luas untuk mencari makan.

Detik-detik ketika seekor tukik mulai bergerak dengan perlahan dan berusaha untuk keluar dari timbunan pasir merupakan saat-saat yang menegangkan bagi saya, saya tidak ingin melewati kesempatan ini walau seperjuta detik sekalipun. Seekor tukik mulai mendorong tubuhnya keluar, setelah keluar dari dalam pasir lalu dengan perlahan ia mulai menggerakkan siripnya seperti ketika kita melakukan warming up sebelum berolah raga atau klo dalam bahasa gaulnya melakukan pelemasan otot. 😀 Lalu ia mulai bergerak sidikit demi sedikit hingga akhirnya mulai menjelajah ke seluruh bak pasir tempat penetasan.

para wisatawan sedang melepas tukik

para wisatawan sedang melepas tukik

Dan kemarin (23 Juli 2008) pada pukul 17.30 WITA para tukik ini mulai memasuki alam liar ketika kami bersama-sama dengan para wisatawan baik domestik maupun manca negara melepaskan mereka ke laut lepas. Para wisatawan yang mengunjungi pantai Kuta sangat antusia mengikuti acara ini. Untungnya hari itu ada sedikit wisatawan domestik yang menikmati suasana sunset di pantai Kuta sehingga acara kali ini berjalan lebih tertib. Karena biasanya wisatawan domestik lebih sulit untuk diatur dibandingkan dengan para bule 😀

Mungkin dari sekian banyak tukik yang sudah kami lepaskan di pantai Kuta hanya beberapa ekor saja yang mampu bertahan hidup dan menjadi dewasa. Para peneliti menyebutkan dari seribu ekor tukik hanya satu yang mampu bertahan hidup. Tukik yang kami lepas hari ini jika mampu bertahan hidup, dalam 25-30 tahun lagi akan kembali ke Kuta untuk bertelur.

Dan ketika mereka memasuki laut lepas, dan pada saat itu juga perjuanganpun dimulai

NB: artikel ini saya ikut sertakan dalam Write for Kontes Blogging HUT RI ke 63 by Rystiono yang saya daftarkan dalam kategori lingkungan.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 8 so far )

Sapi Bali sebagai Plasma Nutfah Indonesia dan Peranannya Bagi Petani

Posted on Juli 22, 2008. Filed under: Kita perlu tahu, Peternakan, Sekitar kita | Tag: |

Sapi Bali merupakan sapi potong asli Indonesia yang merupakan hasil domestikasi dari banteng (Bibos banteng) adalah jenis sapi yang unik, hingga saat ini masih hidup liar di Taman Nasional Bali Barat, Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Ujung Kulon. Sapi asli Indonesia ini sudah lama didomestikasi suku bangsa Bali di pulau Bali dan sekarang sudah tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

gambar sapi bali

gambar sapi bali

Kekhasan Fisik Sapi Bali

Sapi Bali berukuran sedang, dadanya dalam, tidak berpunuk dan kaki-kakinya ramping. Kulitnya berwarna merah bata. Cermin hidung, kuku dan bulu ujung ekornya berwarna hitam. Kaki di bawah persendian karpal dan tarsal berwarna putih. Kulit berwarna putih juga ditemukan pada bagian pantatnya dan pada paha bagian dalam kulit berwarna putih tersebut berbentuk oval (white mirror). Pada punggungnya selalu ditemukan bulu hitam membentuk garis (garis belut) memanjang dari gumba hingga pangkal ekor.

Sapi Bali jantan berwarna lebih gelap bila dibandingkan dengan sapi Bali betina. Warna bulu sapi Bali jantan biasanya berubah dari merah bata menjadi coklat tua atau hitam legam setelah sapi itu mencapai dewasa kelamin. Warna hitam dapat berubah menjadi coklat tua atau merah bata apabila sapi itu dikebiri.

Sapi Bali dalam Kehidupan Petani Bali

Sapi Bali merupakan hewan ternak yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat petani di Bali.

  • Sapi Bali sebagai tenaga kerja pertanian

Sapi Bali sudah dipelihara secara turun menurun oleh masyarakat petani Bali sejak zaman dahulu. Petani memeliharanya untuk membajak sawah dan tegalan, untuk menghasilkan pupuk kandang yang berguna untuk mengembalikan kesuburan tanah pertanian.

  • Sapi Bali sebagai sumber pendapatan

Sapi Bali mempunyai sifat subur, cepat beranak, mudah beradaptasi dengan lingkungannya, dapat hidup di lahan kritis, dan mempunyai daya cerna yang baik terhadap pakan. Keunggulan lain yang sudah dikenal masyarakat adalah persentase karkas yang tinggi, juga mempunyai harga yang stabil dan bahkan setiap tahunnya cenderung meningkat membuat sapi Bali menjadi sumber pendapatan yang diandalkan oleh petani.

  • Sapi Bali sebagai sarana upacara keagamaan

Dalam agama Hindu, sapi dipakai dalam upacara butha yadnya sebagai caru, yaitu hewan korban yang mengandung makna pembersihan. Demikian juga umat Muslim juga membutuhkan sapi untuk hewan Qurban pada hari raya Idhul Adha.

  • Sapi bali sebagai hiburan dan obyek pariwisata

Sapi Bali juga dapat dipakai dalam sebuah atraksi yang unik dan menarik. Atraksi tersebut bahkan mampu menarik minat wisatawan manca negara untuk menonton. Atraksi tersebut adalah megembeng ( di kabupaten Jembrana) dan gerumbungan (di kabupaten Buleleng).

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 17 so far )

Pelepasan Tukik Bareng Artis.

Posted on Juli 10, 2008. Filed under: Aquatic, proFauna, Sekitar kita |

Wah udah lama saya ga update blog ini, karena keasyikan dengan blog saya yang ekads.co.cc. Lama ga update bukan berarti saya sudah melupakan blog ini ataupun sudah meninggalkan blog ini. Kali ini saya akan kembali berbagi pengalaman saya bersama proFauna.

Kemarin kita kembali melepaskan tukik yang baru netas ke laut lepas. Lokasinya sama dengan yang dulu yaitu di pantai Kuta klo pelepasan tukik yang di Klungkung saya belum pernah ikut karena selalu berhalangan setiap ada acara nglepas tukik di Klungkung. Kali ini kita ngelepas sebanyak 47 ekor tukik. Istimewanya pelepasan tukik kali ini dibarengi dengan acara shooting Suami-Suami Takut Istri (yang katanya sih versi layar lebarnya). Di ceritanya ada scene dimana pelepasan penyu dilakukan oleh beberapa artisnya. Klo mau tau lebih jelasnya mungkin anda harus menunggu klo filmnya sudah beredar.

Acara pelepasan kemarin diikuti oleh ratusan peserta. Maklum karena sedang musim liburan sekolah, pantai Kuta ibarat pasar dadakan jadi para wisatawan baik domestik maupun dari manca negara yang sedang menikmati indahnya pantai Kuta ikut beramai-ramai ambil bagian dalam acara ini. Mereka berebut ingin ikut melepas tukik padahal tukik yang dilepas jumlahnya terbatas. Jadi hanya orang-orang yang sudah mendaftar yang dapat melepas tukik secara langsung dan sisanya hanya bisa jadi penonton saja.

Tukik tidak langsung dilepaskan ke laut tapi beberapa meter dari laut. Jadi tukik-tukik ini harus berjuang untuk menuju ke air. Hal ini dimaksudkan agar para tukik dapat melakukan magnetik imprinting lokasi tersebut sehingga mereka akan kembali lagi ke tempat dimana mereka menetas untuk bertelur. Perlu diingat hanya penyu betina yang akan kembali ke daratan untuk bertelur sedangkan penyu jantan hanya akan menunggu di daerah pakan tanpa secara langsung kembali ke daratan.

Kemarin, saya baru tau klo ada sekelompok orang yang menjadikan acara pelepasan penyu sebagai ajang bisnis yaitu dengan menyuruh para peserta yang ingin ikut serta dalam acara pelepasan penyu di tempat lain harus membayar seharga seratus ribu rupiah. Mungkin bagi kita ga mungkin akan mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk ikutan acara pelepasan tukik tapi lain ceritanya kalau turis yang ditawari. Saya jadi geram mendengarnya, ditengah perlunya upaya-upaya untuk melestarikan penyu yang sudah semakin berkurang jumlahnya di dunia masih ada saja orang yang mengambil keuntungan dari hal tersebut.

Kemarin juga tangan-tangan usil yang ingin menangkap tukik yang sudah dilepaskan ke laut tersebut. Untung hal ini diketahui oleh bli Wayan dan Gung Aji satgas pantai Kuta. Katanya tukik tersebut ditangkap lagi ketika dihempaskan ombak dan disembunyikan dibalik baju yang dikenakannya. Mungkin orang itu ingin memeliharanya dirumah atau yang lainnya. Yang jelas tindakan seperti ini sangat membahayakan keberadaan penyu di dunia.

Mengingat perkembangan penyu yang sangat lambat dan hanya 1 dari 1000 ekor tukik yang menetas mampu menjadi dewasa dan kemudian bereproduksi kembali, mari kita bersama-sama ikut menjaga dan melindungi penyu. Jika anda menemukan penyu terdampar atau anda sedang beruntung menemukan penyu yang bertelur di pantai segera hubungi BKSDA terdekat agar kelangsungan hidup penyu dapat terselamatkan.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 5 so far )

Toward Extincty

Posted on Juni 17, 2008. Filed under: Sekitar kita, wild life |

Waktu torang masih kecil, torang selalu dengar cerita dari orang tua kalau di Tangkoko banyak babi rusa. Maar sampai torang so basar bagini, torang nyanda pernah kia yang namanya babi rusa. Semua itu cuma tinggal cerita.

Ucapan itu disampaikan oleh Esli Kakauhe (19) seperti dikutip dari harian Kompas pada tanggal 30 April 2008 yang lalu. (lebih…)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Rintis Konsep “One Health” untuk Melawan Penyakit Zoonosis

Posted on Mei 15, 2008. Filed under: Kita perlu tahu, Sekitar kita |

Berikut ini adalah tulisan yang saya dapat dari milis dokter hewan. Sebenarnya tulisan ini sudah ada di inbox saya sejak lama, cuma saya baru baca sekarang 🙂 Mudah-mudahan informasi berikut ini berguna untuk Anda.

Selamat membaca…. (lebih…)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 5 so far )

« Entri Sebelumnya

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...