wild life

Karena Mereka Tak Bisa Bicara Mari Kita Bicara Untuk Mereka

Posted on September 12, 2008. Filed under: Sekitar kita, wild life |

Pernahkah anda melihat penyu menangis? Atau mungkin anda pernah mendengar air mata penyu? Jika anda beruntung menyaksikan penyu yang sedang bertelur atau melihat penyu di darat, cobalah perhatikan matanya untuk sesaat. Akan tampak tetesan air yang mengalir dari mata penyu. Ya, ternyata penyu juga bisa menangis.

Sebenarnya, cairan yang keluar dari mata penyu tersebut tidak sama dengan cairan yang keluar dari mata kita ketika kita menangis. Ini adalah salah satu cara yang dilakukan oleh penyu untuk mengatur keseimbangan kadar garam di dalam tubuhnya. Hal ini dikarenakan oleh penyu hidup di laut dan banyak minum air laut yang kadar garamnya tinggi, jadi untuk menjaga keseimbangan kadar garamnya penyu mengeluarkan air mata.

Secara tidak langsung hal ini mengisyaratkan pada kita bahwa mereka sedang membutuhkan pertolongan kita. Penyu merupakan hewan yang sudah berada di bumi ini semenjak zaman dinosaurus dan mampu bertahan hidup hingga sekarang. Dan saat ini kelangsungan hidup penyu secara pasti tengah menuju ke arah kepunahan jika kita tidak segera melakukan sesuatu untuk menyelamatkan mereka.

Populasi penyu di dunia semakin berkurang dalam beberapa tahun terakhir, baik karena faktor alam maupun karena ulah manusia. Perburuan penyu baik untuk diambil telur, daging ataupun kerapasnya untuk diperjualbelikan semakin mempercepat mengantar mereka menuju gerbang kepunahan. Mengingat pertumbuhan dan perkembangan penyu yang sangat lambat, membutuhkan waktu paling tidak 20 tahun untuk seekor penyu menjadi dewasa dan siap untuk bereproduksi. Dengan banyaknya tantangan yang dihadapi di alam dari semenjak mereka menetas hingga tumbuh menjadi dewasa, para ahli menyebutkan bahwa dari 1000 ekor tukik yang menetas hanya 1 yang mampu bertahan hidup hingga menjadi dewasa.

Indonesia sebagai negara maritim dengan memiliki perairan yang sangat luas ternyata memiliki kekayaan yang belum disadari oleh banyak orang. Dari 7 spesies penyu yang ada di dunia, 6 diantaranya dapat ditemukan di perairan Indonesia. Keenam spesies tersebut adalah penyu hijau (Chelonia mydas), penyu tempayan (Caretta caretta), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu pipih (Natator depressus), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Keberadaan penyu di suatu perairan menandakan bahwa daerah tersebut masih terjaga kekayaan ekosistemnya. Karena penyu memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem tempat hidupnya.

Mengingat pentingnya peranan penyu bagi keseimbangan ekosistem tempat hidupnya, serta jumlah penyu yang semakin sedikit maka sudah menjadi kewajiban kita untuk menyelamatkan mereka dari kepunahan. Sebagai remaja, banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menyelamatkan penyu dari kepunahan, diantaranya adalah dengan tidak membeli dan mengkonsumsi telur dan daging penyu, tidak membeli produk-produk yang terbuat dari bagian tubuh penyu, tidak menganggu penyu yang sedang bertelur, tidak membuang sampah plastic sembarangan (khusunya di pantai dan laut), tidak melakukan pembangunan besar di sekitar pantai peneluran penyu, mendukung usaha-usaha konservasi, dan segera melapor jika menemukan penyu yang terdampar, terluka atau mati kepada pihak berwajib.

Kesadaran akan pentingnya usaha penyelamatan dan perlindungan penyu wajib kita sebarkan dan tularkan kepada orang-orang di sekitar kita. Semakin banyak orang yang sadar akan pentingnya penyelamatan penyu, maka akan semakin besar pula peluang penyu untuk bertahan hidup. Karena mereka tak bisa bicara, mari kita bicara dan berbuat untuk mereka.

Iklan
Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 13 so far )

Toward Extincty

Posted on Juni 17, 2008. Filed under: Sekitar kita, wild life |

Waktu torang masih kecil, torang selalu dengar cerita dari orang tua kalau di Tangkoko banyak babi rusa. Maar sampai torang so basar bagini, torang nyanda pernah kia yang namanya babi rusa. Semua itu cuma tinggal cerita.

Ucapan itu disampaikan oleh Esli Kakauhe (19) seperti dikutip dari harian Kompas pada tanggal 30 April 2008 yang lalu. (lebih…)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...