Global Warming dan Limbah Ternak

Posted on Januari 20, 2009. Filed under: Kita perlu tahu, Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3, Peternakan, Sekitar kita | Tag:, , , , , |

Global warming atau pemanasan global sudah menjadi isu hangat yang terus dibicarakan beberapa tahun belakangan ini. Mulai dari obrolan di warung kopi hingga ke forum diskusi internasionalpun isu ini sering dibahas.
Pada kesempatan ini saya tidak akan membahas tentang apa itu global warming, penyebab global warming, serta cara mengurangi dampak pemanasan global ini. Yang ingin saya singgung sedikit adalah tentang pengolahan limbah peternakan.
Klo udah ngomongin peternakan, sudah tentu yang terbayang adalah daging yang sering kita konsumsi tiap harinya. Tak dapat dipungkiri klo daging sudah menjadi menu wajib sebagian besar masyarakat Indonesia di saat waktu makan tiba (tentu saja kecuali bagi anda yang vegetarian).
Nah, tentu sudah bisa dibayangkan seberapa banyak daging yang harus tersedia tiap harinya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi protein asal hewan oleh masyarakat Indonesia. Tak mengherankan jika perkembangan dunia peternakan di Indonesia begitu pesat, dan peluang usaha di dunia peternakanpun masih terbuka lebar.
Selain menghasilkan protein hewani, ternyata tanpa kita sadari industri peternakan (entah itu peternakan yang hanya sebatas pekerjaan sampingan ataupun juga peternakan besar) juga menghasilkan limbah tiap harinya. Entah itu berupa kotoran ternak, air kencing, maupun yang lainnya. Dan ternyata “sumbangan“ kotoran ternak terhadap pemanasan global sangat tinggi.
Dari hasil iseng-iseng search di google tentang limbah ternak, ternyata ada banyak banget artikel yang membahas keterkaitan antara pengolahan limbah peternakan dengan pemanasan global (untuk lebih jelasnya mungkin anda bisa search langsung di google) :D. Ternyata selain sebagai sumber polusi dan pemicu efek rumah kaca, kotoran ternak juga sudah umum diketahui sebagai sumber energi alternatif yaitu biogas.
Tentunya ini menjadi peluang tersendiri bagi peternak dengan memanfaatkan kotoran ternaknya sebagai penghasil biogas. Para peternak besar mungkin sudah memiliki sistem pengolahan limbah ternak untuk dimenghasilkan biogas. Sayangnya hal ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh peternak kecil yang mungkin memelihara 1-2 ekor sapi di sela-sela kesibukannya bertani. Kotoran ternak belum mendapat perhatian yang khusus bagi mereka. Ada yang membuang langsung kotoran ternaknya ke sungai dan ada juga sebagian kecil yang mengolahnya menjadi kompos. Tanpa mereka sadari selain menimbulkan pencemaran lingkungan dengan membuang kotoran ternak langsung ke sungai juga dapat memicu pemanasan global.
Nah, hal ini mungkin menjadi PR bagi kita semua dalam mensosialisasikan cara-cara pengolahan limbah peternakan yang ramah lingkungan (misalnya tentang pembuatan biogas) khususnya pada peternak kecil. Disamping kita membantu mengurangi pencemaran lingkungan, juga secara tidak langsung membantu peningkatan status ekonomi peternak kecil karena mereka mampu menghasilkan produk sampingan dari hasil sampingan mereka beternak (ngertikan maksud saya) berupa biogas dan kompos.

NB: artikel ini saya buat dalam rangka ikut berpartisipasi dalam Kompetisi Website Kompas MuDA-IM3.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 14 so far )

Menjadi Sahabat Bumi Bersama Kompetisi Website Kompas MuDA – IM3

Posted on Januari 12, 2009. Filed under: Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3, kontes, Sekitar kita | Tag:, |

kompetisi-website-kompas-muda-im32Kompetisi Website Kompas MuDA – IM3 apaan sih? Trus apa juga hubungannya dengan menjadi sahabat bumi? Eits, sabar dunk…begini nie ceritanya… Kompetisi Website Kompas MuDA – IM3 adalah sebuah kompetisi web atau blog yang diadakan oleh www.mudaers.com dengan tema ”Jadilah Sahabat Bumi”.
menurut saya, ini merupakan ajang yang sangat tepat bagi kita selaku remaja untuk menunjukkan eksistensi kita. Selain dalam bentuk tulisan juga dalam bentuk tindakan nyata kita sebagai wujud kepedulian kita terhadap lingkungan. Hmmm….menjadi sahabat bumi itu gimana sih?
Menurut saya, menjadi sahabat bumi itu tidaklah sulit. Bumi tempat tinggal kita ini sama dengan lingkungan yang selalu menemani kita dari semenjak kita lahir sampai sekarang, sudah sepantasnya kita jadikan sahabat. Bumi ini tidak boleh kita ”kuasai” sendiri, kita sering lupa bahwa selain kita masih ada tanaman dan hewan yang juga menggantungkan hidupnya pada bumi.
Kehidupan manusia, satwa, tumbuhan dan lingkungan (bumi) tidak bisa lepas begitu saja. Semuanya saling terkait satu sama lain. Manusia menyandarkan kehidupannya pada alam, manusia mengambil dan mengolah hasil alam untuk mempertahankan dan meningkatkan derajat hidupnya, tetapi sudahkan manusia memberikan kotribusi balik kepada alam?
Ternyata, tindakan eksploitasi alam dan lingkungan oleh manusia tidak diimbangi dengan upaya pelestarian alam. Dan dampaknya satwa yang juga menggantungkan hidupnya pada alam juga merasakan akibatnya. Ketika hutan dibabat dijadikan perkebunan atau pemukiman penduduk maka satwapun akan kehilangan rumah tempat tinggalnya dan juga sumber makanannya.
Ketika hutan telah gundul, satwa-satwa menjerit dan alampun mulai menunjukkan kuasanya. Dan ketika alam mulai murka tidak hanya satwa, manusiapun terkena dampaknya. Banjir dan tanah longsorpun menghantui disaat musim hujan seperti sekarang ini. Dan ketika musim panas tiba maka sungai-sungaipun surut karena tidak ada lagi hutan sebagai penampung air.
Sebelum alam terlanjur murka, mari kita melakukan sesuatu untuk alam sebagai timbal balik terhadap semua yang sudah kita peroleh dari alam. Misalnya, dengan melakukan penanaman pohon ataupun reboisasi hutan yang sudah gundul tentu akan memberikan banyak manfaat bagi generasi mendatang.
Selain itu, hal sehari yang paling sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya juga dapat menyelamatkan lingkungan dari kerusakan dan satwa dari kepunahan. Sebagai contohnya saja jika kita membuang sampah plastik sembarangan, sampah plastik akan menyebabkan polusi tanah karena tidak dapat diurai oleh mikroorganisme, jika hanyut ke sungai dan mengumpul maka dapat menyebabkan banjir, jika sampah plastik sampai ke laut dan sampai termakan oleh penyu maka dapat menyumbat saluran pencernaan penyu yang dapat menyebabkan kematian.
Selama ini ga kebayang khan jika sebuah sampah plastik bisa menimbulkan kerugian yang begitu besar. Menjadi sahabat bumi tidaklah sulit, hal sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan dan merawat pohon juga udah menunjukkan kepedulian kita pada lingkungan. Dan hal-hal sederhana ini sudah selayaknya kita  pupuk sedini mungkin.
Jadi siapa bilang jadi sahabat bumi itu susah? Yuk jadi sahabat bumi sambil ikutan Kompetisi Website Kompas MuDA-IM3

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 10 so far )

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...